Monday, 15 January 2018

BUAIAN ANOM



Mentari, entah berapa kali ia terbit, lalu tenggelam, selalu saja begitu. Tak bosan pula para penyair membahas atau mencolek mentari dalam bait puisinya, entah diibaratakan sebagai kekuatan, harapan atau kebahagiaan. Upss, aku tak sadar bahwa sekarang aku sama saja dengan penyair-penyair itu dalam membahas mentari.
Yah, pagi yang indah untuk mengembangkan khayalan-khayalan indah di liburan akhir tahun ini. Setelah liburan ini mulailah ujian-ujian dan TO untuk menghadapi UN SMA, hmm setelah itu.

“Ra, jangan banyak ngelamun mobil udah dipanasin tuh sama Ayah, nenek juga udah nelpon gak sabar liat kamu,“ teriak Mama.

“Iya Maa, Tinggal masukin baju doang kok ke koper sama nyiapin jarum.”

Kami akan ke rumah nenek. Hmm, nenek banyak sekali kenangan dan pelajaran yang ia berikan di waktu aku kecil. Namaku juga usul darinya “Fathimah az-Zahra”, tetapi aku lebih sering dipanggil “Zahra” daripada “Fathimah”. Kami, maksudnya aku, nenek dan kakek sangat dekat, gimana enggak dari usia empat tahun sampai SD kelas enam kami tinggal bersama, karena orang tuaku tinggal di kota yang panas dan aku benci panas. Jadi, teringat saat umurku TK.

* * *
Dua pasangan tua sedang menikmati sorenya, yang perempuan menikmati tehnya, sedangkan yang laki-laki menikmati tehnya pula. Mereka sedang asyik bercengkerama, entah apa yang mereka bahas sehingga mereka meneteskan air mata karena tertawa. Rumah mereka sederhana sekali, terbuat dari kayu berisikan empat kamar, satu ruang tamu, satu ruang keluarga, dapur dan dua kamar mandi. Walaupun sederhana, tetapi halamannya istimewa karena ada taman, kolam ikan, halaman yang cukup untuk main badminton.

“Nek… Nek... tahu tidak? Aku paling tidak suka dibohongi!“ ujar Sang Cucu, iya itu aku orang yang memecahkan percakapan sore mereka.

“Semua orang tidak suka dibohongi Ra…,” yang jawab malah Kakek.

“Tapi aku ini beda, aku paling tidak sukanya sangat Kek.”

“Memangnya siapa yang membohongimu, Ra? Pak Asep tukang kebun? Atau Bu Sumi istri Pak Asep?” tanya Nenek.

“Bukan keduanya, bukan siapa yang membohongiku, Nek!”

“Jadi?” tanya mereka berdua serempak.

“Matahari yang bohong ke aku, setiap pagi aku buru-buru bangun, ingin menyambut matahari. Aku sangat suka sama dia, karena dengan itu aku ngerasa tenang, dan akhirnya kita memutuskan untuk bersahabat, dan dia sudah berjanji ke aku kalau gak bakal ninggalin aku, dan buktinya sekarang dia mulai mau ninggalin aku kalau sore, datang lagi paling besok.”

“Nak sini Zahra cucu yang cerdas dan manis duduklah dilahunan Nenek, biar Nenek ceritakan suatu kisah agar kamu mengerti. Waktu Nenek kecil.., desa ini selalu tenteram seperti kamu rasakan sekarang, hanya ada sedikit perubahan, yaitu jalan beraspal yang kamu lihat sekarang.

Setiap shubuhnya Nenek selalu mengaji ke surau atau masjid, mengaji dengan Ustadz Jalal, waktu itu Nenek sekitar kelas 2 SR atau sekarang SD.

Jika Zahra memutuskan bersahabat dengan Matahari, Nenek malah memutuskan bersahabat dengan awan. Ya, Nenek selalu mengagumi awan, karena ia selalu bisa saja membentuk suatu bentuk yang kita khayalkan. Coba kamu lihat awan dan ucapkan dalam hati ingin melihat bentuk apa, pasti lambat laun awan akan membentuk apa yang kamu inginkan. Nenek pula menyuruhnya berjanji agar tidak menangis atau yang kamu kenal itu hujan, kenapa? Kalau awan menangis, besok tanahnya akan licin, dan sering jika Nenek mau berangkat mengaji atau sekolah terpeleset lalu datang ke masjid atau sekolah dengan baju kotor, bukankah itu membuat tidak enak belajar?

Lalu besoknya Nenek menyuruhnya berjanji agar tidak menangis lagi, dan Nenek pun berjanji jika air matanya mau keluar atau kamu kenal mendung Nenek akan hibur. Kata Ustadz Jalal bahwa hiburan Ustadz Jalal adalah membaca Al-Quran dan kitab-kitab kuning tanpa harkat itu. Maka setiap mendung Nenek bacakan Iqro, hehe.., kan Nenek waktu itu gak sepintar kamu yang walaupun TK sudah bisa baca Quran. Tapi tetep aja awan nangis.
Lalu, Nenek tanyakan kepada Ustadz Jalal mengapa awan menangis sehingga kadang-kadang suka sampe ngeluarin suara yang menyeramkan dan kenapa awan tidak menepati janjinya? Berarti dia berbohong.

'Nak, awan menangis bukan karena ia sedih, tidak setiap air mata itu kepiluan, air mata pun bisa jadi kebahagian. Bagaimana ia tidak bahagia bisa bersahabat dengan kamu? Terus suara menyeramkan yang ia keluarkan itu karena saking gembiranya, kamu kan suka gitu kalau dapet yang bahagia, suka jerit-jeritan. Kan awan nangis juga membawa berkah, kan bapakmu nyawah itu harus pake air banyak, kamu juga harus minum dan lain-lain, kan? Makanya, jadilah anak yang baik, berbakti kepada orang tua, iman kepada Allah dan Rasul-Nya, sholat, mengaji nanti kau temukan bahwa air mata awan adalah kebahagiaan. Soal janji awan, ia tidak berbohong untuk tidak menepatinya, tapi dia melakukan yang terbaik buat kamu, untuk apa selalu membuka mata, sedangkan hatinya tidak ceria. Kau tak perlu mempermasalahkan air mata awan karena segala sesuatu ada di keyakinanmu. Yakinlah awan selalu bersamamu ada dalam hatimu sampai kau merasakan Penciptanya,' begitulah Ra, kata Ustadz Jalal.

Jadi, Matahari bukan berbohong dan bahasanya pun bukan berbohong untuk yang tidak menepati janji, tapi khianat. Matahari hanya melakukan apa yang diperintahkan Tuhannya dan Tuhanmu, Matahari bukan tidak mau menemanimu, tapi….”

Tiba-tiba Kakek menyela, “Nenek sayang, bahasamu terlalu sulit dipahami untuk Zahra, sini biar aku jelaskan. Dengarkan Zahra, jika kamu ingin bersahabat dengan Matahari bersahabatlah jangan hanya di mata saja dan di hati juga, buatlah Matahari ada di hatimu sampai kamu merasakan Penciptanya pun ada di hatimu, Matahari bukannya tak ingin menepati janji, tapi jika ia selalu bersamamu kasihan yang di kota seperti Ayah sama Mama bakal kepanasan terus, kamu sih gak bakal terlalu kepanasan karena di sini banyak pohon. Pokoknya sekarang kamu yakin bahwa sahabat kamu melakukan yang terbaik buat kamu, okey? Matahari juga suka gak ada gara-gara kehalang awan lho nek”

“Udah sore, nanti kamu tanyanya kalau gak ada Kakek,” jawab Nenek sambil marah dan masuk rumah.

“Lho Nek, kok kamu marah? Aku kan hanyaa.., ah sudahlah, selalu saja begitu,” Kakek tersenyum hangat kepadaku.


* * *


Ah masa itu.., aku selalu merindukanya
“Hey, Ra cepet jangan ngelamun, kamu malah melamun, ayoo,” kata Mamah sambil membuka pintu kamarku.


***

No comments:

Post a Comment

Jangan

JANGAN Jangan ganggu aku Atau aku yang menghadirkanmu? Jangan bergerak dalam kepalaku Atau aku yang menyutradaimu? M...