Mentari, entah berapa kali ia terbit, lalu tenggelam,
selalu saja begitu. Tak bosan pula para penyair membahas atau mencolek mentari dalam
bait puisinya, entah diibaratakan sebagai kekuatan, harapan atau kebahagiaan. Upss, aku tak sadar bahwa sekarang aku
sama saja dengan penyair-penyair itu dalam membahas mentari.
Yah, pagi yang indah untuk mengembangkan khayalan-khayalan
indah di liburan akhir tahun ini. Setelah liburan ini mulailah ujian-ujian dan
TO untuk menghadapi UN SMA, hmm setelah
itu.
“Ra, jangan banyak ngelamun mobil udah dipanasin tuh
sama Ayah, nenek juga udah nelpon gak sabar liat kamu,“ teriak Mama.
“Iya Maa, Tinggal masukin baju doang kok ke koper
sama nyiapin jarum.”
Kami akan ke rumah nenek. Hmm, nenek banyak sekali kenangan
dan pelajaran yang ia berikan di waktu aku kecil. Namaku juga usul darinya “Fathimah
az-Zahra”, tetapi aku lebih sering dipanggil “Zahra” daripada “Fathimah”. Kami,
maksudnya aku, nenek dan kakek sangat dekat, gimana enggak dari usia empat
tahun sampai SD kelas enam kami tinggal bersama, karena orang tuaku tinggal di kota
yang panas dan aku benci panas. Jadi, teringat saat umurku TK.
* * *
Dua pasangan tua sedang menikmati sorenya, yang perempuan
menikmati tehnya, sedangkan yang laki-laki menikmati tehnya pula. Mereka sedang
asyik bercengkerama, entah apa yang mereka bahas sehingga mereka meneteskan air
mata karena tertawa. Rumah mereka sederhana sekali, terbuat dari kayu berisikan
empat kamar, satu ruang tamu, satu ruang keluarga, dapur dan dua kamar mandi.
Walaupun sederhana, tetapi halamannya istimewa karena ada taman, kolam ikan,
halaman yang cukup untuk main badminton.
“Nek… Nek... tahu tidak? Aku paling tidak suka
dibohongi!“ ujar Sang Cucu, iya itu aku orang yang memecahkan percakapan sore
mereka.
“Semua orang tidak suka dibohongi Ra…,” yang jawab
malah Kakek.
“Tapi aku ini beda, aku paling tidak sukanya sangat Kek.”
“Memangnya siapa yang membohongimu, Ra? Pak Asep tukang
kebun? Atau Bu Sumi istri Pak Asep?” tanya Nenek.
“Bukan keduanya, bukan siapa yang membohongiku, Nek!”
“Jadi?” tanya mereka berdua serempak.
“Matahari yang bohong ke aku, setiap pagi aku buru-buru
bangun, ingin menyambut matahari. Aku sangat suka sama dia, karena dengan itu
aku ngerasa tenang, dan akhirnya kita memutuskan untuk bersahabat, dan dia sudah
berjanji ke aku kalau gak bakal ninggalin aku, dan buktinya sekarang dia mulai
mau ninggalin aku kalau sore, datang lagi paling besok.”
“Nak sini Zahra cucu yang cerdas dan manis duduklah dilahunan
Nenek, biar Nenek ceritakan suatu kisah agar kamu mengerti. Waktu Nenek kecil..,
desa ini selalu tenteram seperti kamu rasakan sekarang, hanya ada sedikit
perubahan, yaitu jalan beraspal yang kamu lihat sekarang.
Setiap shubuhnya Nenek selalu mengaji ke surau atau masjid, mengaji dengan Ustadz
Jalal, waktu itu Nenek sekitar kelas 2 SR atau sekarang SD.
Jika Zahra memutuskan bersahabat dengan Matahari, Nenek
malah memutuskan bersahabat dengan awan. Ya, Nenek selalu mengagumi awan, karena
ia selalu bisa saja membentuk suatu bentuk yang kita khayalkan. Coba kamu lihat
awan dan ucapkan dalam hati ingin melihat bentuk apa, pasti lambat laun awan
akan membentuk apa yang kamu inginkan. Nenek pula menyuruhnya berjanji agar
tidak menangis atau yang kamu kenal itu hujan, kenapa? Kalau awan menangis,
besok tanahnya akan licin, dan sering jika Nenek mau berangkat mengaji atau
sekolah terpeleset lalu datang ke masjid atau sekolah dengan baju kotor,
bukankah itu membuat tidak enak belajar?
Lalu besoknya Nenek menyuruhnya berjanji agar tidak
menangis lagi, dan Nenek pun berjanji jika air matanya mau keluar atau kamu
kenal mendung Nenek akan hibur. Kata Ustadz Jalal bahwa hiburan Ustadz Jalal
adalah membaca Al-Quran dan kitab-kitab kuning tanpa harkat itu. Maka setiap
mendung Nenek bacakan Iqro, hehe..,
kan Nenek waktu itu gak sepintar kamu yang walaupun TK sudah bisa baca Quran.
Tapi tetep aja awan nangis.
Lalu, Nenek tanyakan kepada Ustadz Jalal mengapa
awan menangis sehingga kadang-kadang suka sampe ngeluarin suara yang menyeramkan
dan kenapa awan tidak menepati janjinya? Berarti dia berbohong.
'Nak, awan menangis bukan karena ia sedih, tidak
setiap air mata itu kepiluan, air mata pun bisa jadi kebahagian. Bagaimana ia
tidak bahagia bisa bersahabat dengan kamu? Terus suara menyeramkan yang ia
keluarkan itu karena saking gembiranya, kamu kan suka gitu kalau dapet yang
bahagia, suka jerit-jeritan. Kan awan nangis juga membawa berkah, kan bapakmu
nyawah itu harus pake air banyak, kamu juga harus minum dan lain-lain, kan?
Makanya, jadilah anak yang baik, berbakti kepada orang tua, iman kepada Allah
dan Rasul-Nya, sholat, mengaji nanti kau temukan bahwa air mata awan adalah
kebahagiaan. Soal janji awan, ia tidak berbohong untuk tidak menepatinya, tapi
dia melakukan yang terbaik buat kamu, untuk apa selalu membuka mata, sedangkan
hatinya tidak ceria. Kau tak perlu mempermasalahkan air mata awan karena segala
sesuatu ada di keyakinanmu. Yakinlah awan selalu bersamamu ada dalam hatimu sampai
kau merasakan Penciptanya,' begitulah Ra, kata Ustadz Jalal.
Jadi, Matahari bukan berbohong dan bahasanya pun
bukan berbohong untuk yang tidak menepati janji, tapi khianat. Matahari hanya
melakukan apa yang diperintahkan Tuhannya dan Tuhanmu, Matahari bukan tidak mau
menemanimu, tapi….”
Tiba-tiba Kakek menyela, “Nenek sayang, bahasamu
terlalu sulit dipahami untuk Zahra, sini biar aku jelaskan. Dengarkan Zahra,
jika kamu ingin bersahabat dengan Matahari bersahabatlah jangan hanya di mata
saja dan di hati juga, buatlah Matahari ada di hatimu sampai kamu merasakan Penciptanya
pun ada di hatimu, Matahari bukannya tak ingin menepati janji, tapi jika ia
selalu bersamamu kasihan yang di kota seperti Ayah sama Mama bakal kepanasan
terus, kamu sih gak bakal terlalu kepanasan karena di sini banyak pohon. Pokoknya
sekarang kamu yakin bahwa sahabat kamu melakukan yang terbaik buat kamu, okey?
Matahari juga suka gak ada gara-gara kehalang awan lho nek”
“Udah sore, nanti kamu tanyanya kalau gak ada Kakek,”
jawab Nenek sambil marah dan masuk rumah.
“Lho Nek, kok kamu marah? Aku kan hanyaa.., ah sudahlah,
selalu saja begitu,” Kakek tersenyum hangat kepadaku.
* * *
Ah masa itu.., aku selalu merindukanya
“Hey, Ra cepet jangan ngelamun, kamu malah melamun,
ayoo,” kata Mamah sambil membuka pintu kamarku.
***
No comments:
Post a Comment