Friday, 23 March 2018

PUAN


PUAN


Puan,

Kembarmu yang kini berhimpun-himpun jiwa

Namun sinismu yang beribu-ribu kata

bermakna-makna pesan bangsamu


Puan,

Kau memberi dampak

Tetapi aku bisa menampak

Kau sengaja membangun duka

Tenang, aku bisa bercita


Puan,

Jangan kau bisikan apa-apa pada kembarmu

Atau akan kulantangkan pada dunia melalui sinismu


Puan,

Kau bisa berjenjangkan belati sesuka hati

mengerutkan kening, itulah keuntungan pangkatmu

Tetapi aku bisa menyepi

lalu apa martabatmu?

Rolling in The Deep


Satu lagi

Saat menulis puisi atau entah apalah,

aku sedang dalam perjalanan dari Kota Tanggerang menuju Jakarta Pusat

Di sini sekitar pukul 23.14

Entah, di saat aku sedang mendengarkan lagu Adele - Rolling In The Deep;



There's a fire starting in heart

(Ada bara yang membakar hatiku)


Reaching a fever pitch and it's bringing me out the dark

(Mencapai puncak terpanas dan membawaku dari gelap)


Finally, I can see you crystal clear

(Akhirnya, aku bisa lihat kau dengan jelas)


Go head and sell me out and I'll lay your ship bare

(Teruslah permainkan diriku dan akan kutunjukkan kapalmu)


See how I'll leave with every piece of you

(Lihatlah bagaimana aku kan pergi membawa tiap kepingan dirimu)


Don't underestimate the things that I will do

(Jangan remehkan apa yang akan kulakukan)



Itu sepenggal lirik lagunya dan saat mendengarnya hatiku bersua


* * *


Aku bisa tersenyum di saat kau terjatuh di pengunjungan

dan aku sedang di perantauan

Aku akan menyuruhmu duduk, lalu makan

aku yang bayar, hari itu sudah malam


Aku bisa melakukan seperti itu yang lainnya

dan tersenyum dengan formalnya

Aku bisa..

Tetapi jangan bayangmu lewat di kampung

Aku takkan menerima

Aku akan melihat dengan rindunya, rindu sanubariku



Jangan lagi meminta untuk aku sukai

jangan meminta aku menjadi matamu lagi

jangan meminta aku mendengarmu lagi

Karena sudah kuputuskan katamu kicau burung,

jangan repot-repot meyakinkan lagi

Karena yakinmu kafir

Jangan membelati lagi, karena aku tak peduli



Aku sudah ingin melepaskan..


Tetapi jauh hari, kau sudah mengikat

menyuruhku mengangkat tangan di samping kepala


Kau tak lebih baik

Fana, fana, fana


Kerahmu bereskan, karena aku tak bisa melupakan


* * *


Selesai ditulis pukul 23.47



SUA


SUA


Puan, dengarkan shurah ini:

Karena sayup air gemercik yang diayunkan

menjadi kebahagiaan

Karena saling mengejar

menjadi tawa

Karena lisan berbelok

kau merasa termata

Karena dengan ilusimu

kau termaktub menjadi bodoh

Karena asamu selalu melebihi dengan rendahmu

kau hanya perlu elok


Maka jangan terlalu lembut

masuk ke dalam malam kelam


Maka jangan menjadi itu

ini,

perbaiki


Maka..

Hamba saja..


Jangan menjadi di esok hari,

karena tak bisa mengatur Dia

Saturday, 10 March 2018

Widiwasa




Saat kutulis puisi ini
Aku sedang perjalanan senja di Jakarta
Indah..

Hati mana yang tak menciptakan puisi saat melihat senja?
Ah, sungguh jika tak menciptakan puisi
Begini puisinya.

* * *
Cahaya bijak dan kepompong yang amat cantik
Elok-elok dikelitiki negeri asal lumbung padi
Boneka kayu pertanda penghebanan
Bungkus asal "Liza" yang terhebat

Hirup desis, sinus rantau
Rantau, berada dalam layar berbeda
Terompet kilu,
karena terompet amat bodoh, amat gemulai menarik

Oh Widiwasa, tuntunlah..

Friday, 9 March 2018

8 Maret 2018



Hari ini di sekolah semua pelajaran dari awal sampe akhir gak ada gurunya.
Karena temen-temen kalau gak ada guru suka nyanyian gak jelas, makannya tadi aku siasatin dengan cara minta singer mereka untuk bercerita.

Akhirnya mereka cerita deh tentang sekolah tapi hal mistisnya yang akibatnya sekrang susah tidur, gatau kenapa.

Tapi hari ini yang spesial menurutku bukan cerita-cerita mistis di sekolah, tapi waktu ngaji di Madrasah.

Hari ini pelajarannya faroid(waris-mewaris), fikih, imla, sharaf, gurunya adalah kepala Yayasan sendiri. Beliau terkenal galaknya, tapi sebenernya sih baik, beneran baik. Beliau dikenal cerdas matematikanya dan paling cerdas dianatara saudara-saudaranya. Maka dari itu beliau suka buat soal yang susah dan orang pertama yang bisa ngejawab sambil bener, beliau kasih uang. Baik, kan? hehe.

Nah habis shalat Ashar, waktu pelajaran imla beliau nyuruh aku buat beli baso tahu. Ya, aku beli.

Waktu beliau mau makan kelas sebelah yaitu adik kelas berisik. Beliau simpen sendok, terus keluar ke kelas sebelah.

Dengan ciri khasnya beliau yang marah, nyuruh anak-anak laki-laki yang berisik itu masuk ke kelasku, kelas kakak kelasnya.

Mereka disuruh berdiri ngejajr di depan kelasku dan pastinya mereka pada malu.

Beliau makan baso tahu mungkin baru beberapa suap, lalu baso tahu itu beliau kasih ke adik kelas yang berisik itu, sekitar ada 7 orang.

Kalau di dunia pesantren, berebut makanan atau minuman bekas guru itu lumrah, gak ada kata jijik atau apalah.

Sedangkan mereka yang berisik gak perlu berebut, kan enak?

"Ayo, bawa. Kakak kelasmu itu kalau makanan bekas bapak suka berebut, gak tau kenapa. Nih kalian gak perlu berebut, puterin aja," begitu tutur beliau.

Jadi, gak tau kenapa tersentuh aja liat sikap beliau ke orang-orang yang menganggu ketentraman orang lain.

Wednesday, 7 March 2018

Selasa 6 Maret 2018




Diawali pagi yang kesiangan, ke sekolah sengaja kesiangan karena tahu bakal beberes, soalnya kemarin di sekolah terkena banjir. So, pasti hari ini kerja bakti.

Di kelas 2 SMA ini aku memutuskan untuk tidak mempunyai pacar, mungkin alasannya bisa nyusul nanti.

Nah, setiap keputusan pasti kan ada rintangan. Rintangannya itu banyak, hampir setiap bulan minimal satu orang ngedeketin, terus ngasih kode-kode gitu. Halaah, padahal udah muak sama yang kaya gituan.

Semua laki-laki yang datang ditolak secara halus, bilangnya sih gini, "Maaf mas, sayanya mau fokus belajar dulu, kalau jodoh mah da gak bakal kemana,"

Alih-alih menolak secara halus, eh aku malah memberi harapan ke mereka. Jadinya beban tersendiri , karena mereka terus menghubungi.

Diantara semua biasa aja, tantangan yang datang yah biasa aja. Ada satu tantangan terberat, yaitu aku kontekan lagi sama temen masa kecil, tapi masih sodara, nama inisialnya "SFA".

Kami udah 5 tahun gak ketemu, sampe sekarang juga sih belum ketemu, tapi sekarang kontekan.

Dari sinilah tantangan terberat itu..
Kita sambung besokk, okay

Jangan

JANGAN Jangan ganggu aku Atau aku yang menghadirkanmu? Jangan bergerak dalam kepalaku Atau aku yang menyutradaimu? M...