Sunday, 21 January 2018

ALI



Deru ombak yang tampak samar di mata seorang wanita yang sedang menatapnya, entah sebuah kebahagian atau kesedihan, tetapi matanya yang melihat laut lepas itu mulai berkaca-kaca. Ia di tepi balkon lantai tiga sebuah villa pribadi tetap melihat laut.

Entah apa yang ada di benaknya, yang pasti ada sebuah langkah, ada sebuah keputusan, ada sebuah tekad, banyak gejolak, dan banyak kisah dalam sebuah foto yang ia pegang.

"Jika kau tak yakin untuk melangkah, kau bisa mundur. Aku tak apa, keluargaku pun akan kuusahakan untuk memaklumi," ujar seorang pria yang baru saja datang dan sekarang berdiri di samping Si Wanita.

Si Wanita hanya membalas dengan senyum hangat.

"Bukankah dalam bait Kitab Imrithy dikatakan 'setiap orang yang tak yakin tidak akan mendapatkan manfaat'," ucap Si Lelaki.

"Ya, aku tahu dan tidak akan takut orang yang yakin. Kau tahu? Sekarang aku tidak takut atau ragu kok. Terima kasih dulu kau mengajarkannya kepadaku, Mas Fahmi," jawab Si Wanita.

"Kau masih menganggapku kekasih, Zainab?" dengan matanya sama-sama melihat ke arah laut

"Aku masih selalu mendoakanmu, menepati janjiku untuk mendoakanmu," kepalanya menoleh kepada Fahmi dengan senyum hangat dan Fahmi pun menoleh

"Ohw, kau memandang laut dengan mata hampir basah, sedangkan tanganmu memegang fotoku?" tanya Fahmi dengan senyum yang tak tahu apa artinya.

"Ya, ini fotomu. Sungguh, ada rasa sangat bahagia ketika aku melihatnya, Fahmi."

Mereka dengan jarak sekitar tiga meter sama-sama melihat laut, entah apa yang ada dalam benak masing-masing. Entah apa arti dari tatapan mata mereka, yang jelas ombaklah yang hanya terdengar di antara mereka karena para undangan baru berdatangan, dan para keluarga pun sedang sibuk untuk mempersiapkan sebuah hari yang sakral.

"Kamu tahukan, Zainab? Bahwa dalam hadis dikatakan 'Tinggalkan perkara yang meragukanmu ke perkara yang tidak meragukanmu’," tanya Fahmi dengan tajam.

"Aku paham Mas Fahmi, paham."

"Zainab, kau tahu apa yang paling aku cemburui? Debu! Aku paling cemburu kepada debu karena ia bisa kapan saja menyentuh kulitmu."

"Fahmi, apakah kau tahu juga? Bahwa katanya dahulu pada zaman jahiliyah, ada seorang penyair yang bertanya kepada kambing, katanya, 'Wahai kambing apakah Fatimah kekasihku adalah bangsaku atau bangsamu?' Maksudnya ia bertanya apakah kekasihnya itu bangsa Si Penyair yang mencintainya sehingga ia sama-sama mencintai atau bangsa Si Kambing yang tak punya cinta. Aku pun pernah bertanya seperti itu, tapi kepada dinding kamarku dan aku tidak tahu apa jawaban dinding itu."

"Jawabannya ada pada syair Gus Mus, ya, Gus Ahmad Musthafa Bishri, 'Ku lihat cermin tak terlihat apapun. Bahkan, wajahku sendiri. Aku hanya melihat wajahmu'," sekarang mata mereka saling bertatap.

"Aku pernah membuat syair untukmu Fahmi! 'Telah sedang aku coba nafikan. Apa-apa yang bukan hakmu. Melawan anugerah untuk rahmah sehingga cahaya itu bisa memantul. Tiap-tiap sel saraf, darah, jiwa, lisan, mata, hingga rupa dan kau tinggal menjemput dalam keadaan suka,' begitulah Fahmi syair untukmu."

Ombak, masih deru ombak yang terdengar. Sekarang mata mereka saling bertatap dengan air mata yang menggumpal hampir terjatuh.

"Aku pun tahu Fahmi di saat Nabi Musa akan berpisah dengan Nabi Khidlir. Nabi Musa gagal menjadi muridnya. Ia meminta kepada Nabi Khidlir sebuah nasihat, Nabi Khidlir berkata, ‘Janganlah sekali-sekali kau buka pintu yang tak bisa kau kunci dan janganlah pula mengunci pintu yang tak bisa kau buka,' Aku tahu Fahmi, aku mengatakannya karena aku tahu kau akan mengucapkan itu," ucap Zainab, dengan senyum yang manis dan air matanya hampir saja jatuh.

"Air matamu hampir jatuh Zainab, janganlah kau menangis di hadapanku, nanti make up-mu luntur. Said Nursi, kau tahu?"

"Ya, aku tahu, 'Yang paling berhak dicintai adalah cinta itu sendiri dan yang paling berhak diperangi adalah perang itu sendiri,' itu syairnya, Fahmi, aku tahu," senyum Zainab semakin hangat dan manis.

"Kebenaran telah dekat denganmu dari urat hadimu. Eh, engkau malah melepaskan anak panah pemikiran menjauh. Filsuf bunuh diri karena pemikiran yang meletihkan," kata Fahmi dengan tatapan mata yang semakin dalam.

"Itu bukan kata-katamu, Fahmi. Itu kata-kata Jalaluddin Rumy, di dalam kitab Fihi Ma Fihi, kah? Ah, aku lupa dalam kitab apa itu,” timpal Zainab.

"Aku tak paham Zainab, sungguh! Aku telah mengatakan semua isi hatiku dan kau menyambutnya sama. Tapi kau tetap yakin untuk melangkah ke hari yang sakral ini? Para undangan sudah datang dan aku sudah mengatakan bahwa keluargaku bisa memaklumi jika kau mundur jika kau membatalkan pernikahan ini. Kau telah memakai gaun, aku pun sudah memakai jas. Lelaki tidak perlu berdandan, kan? Kau pun masih memegang fotoku, kau juga mengatakan bahagia melihat fotoku, ditambah matamu pun berkaca-kaca, aku tak paham, Zainab, sungguh tak paham!" nada suara Fahmi mulai menaik, tetapi matanya memelas.

"Fahmi, aku sudah lelah mengatur diriku, mataku lelah karena hanya ingin melihat apa yang aku ingin, hatiku lelah karena terus saja mengatur. Aku akan serahkan kepada-Nya segala urusanku, biarkan Ia mencukupi dengan kehendak-Nya, Fahmi.   Soal fotomu? Aku sangat bahagia karena saat melihat fotomu tak ada lagi sesak, aku bahagia karena rasa itu telah hilang. Soal aku menyambut hatimu? Bukankah itu caramu dahulu? Aku menyambutmu dengan sepenuh hati, sedangkan kau datang hanya sebatas bait puisi. Air mataku sungguh akan jatuh, berterima kasih kepada Yang Maha Kasih karena telah memilihkan untukku seorang lelaki yang datang dengan hati dan aku pun telah memutuskan menyambutnya dengan sepenuh hati,” kata Zainab mengejutkan Fahmi.
Fahmi diam tak bisa berbicara apa-apa. Ia sungguh terkejut dengan apa yang dikatakan Zainab.

Zainab pun meneruskan kata-katanya, “Perjodohan tak selalu mengerikan ternyata, bukankah kau yang sering bercerita? Bahwa kakakmu sangat bertolak belakang denganmu? Ia pendiam, tak pernah mempunyai hubungan, aku tambahkan bahwa ia bertanggung jawab tak akan meninggalkanku dan dia sangat setia, karena katamu juga ia kebalikan denganmu dan dia juga lebih tampan, lebih pintar. Apa? Kau mau berkata bahwa ia awam agama? Tapi bukankah ia lebih pintar darimu, dulunya pernah sama-sama mondok, hanya saja ia meneruskan kuliah sedangkan kau masih dalam track yang sama."

"Kau jahat, Zainab! Kau mengatakan itu semua kepadaku?" air mata Fahmi hampir jatuh.

"Siapa yang jahat, Fahmi? Aku atau kau? Siapa yang meninggalkanku? Berteriak di hadapanku saat itu dengan kata-kata kasarmu dan kau tak menjelaskan apa-apa. Kau hanya berkata bahwa aku tak akan paham, kau berkata bahwa rasamu selama ini hanya bagian drama untuk menjagaku. Lalu, kau melangkah meliuk dengan seorang wanita  yang sekarang wanita itu telah menikah dengan yang lain.

Siapa yang jahat Fahmi? Kau membujuk kekasih kakakmu untuk kembali lagi denganmu di hari pernikahannya dan berkata bahwa pihak keluarga bisa memaklumi. Aku paham maksudmu, kau menyuruhku untuk berkata di hadapan semua bahwa kita pernah memiliki rasa dan aku sekarang lebih baik menikah denganmu karena lelaki saat pernikahan hanya memakai jas, jadi tidak ribet jika mempelai pria diganti. Siapa yang jahat, Fahmi?" jawab Zainab dengan hangat dan tenang.

Sekarang hening, bahkan ombak pun hening, tak ada burung berkicau, hanya angin, hanya angin. Mereka seolah mendengar percakapan dua anak Adam yang pernah merakit sebuah kisah, seolah mereka tercengang dengan kata-kata terakhir Zainab yang tenang dan hangat.

Zainab tersenyum selalu selama percakapan, sedangkan Fahmi dengan emosi yang naik turun, mereka bisa merasakan gelombang rasa dua insan itu.

Masih hening, Fahmi terpaku dengan mata yang dalam menghadap ke arah Zainab. Ingin ia memohon memegang tangan Zainab, tetapi Ia tahu tentang Jahannam. Ia tatap Zainab dengan lekat, seorang wanita yang pernah ia siakan, ia tatap wajah Zainab, seseorang yang pernah saling berharap akan masa depan.

"Zainab! Bibi cari kau kemana-mana, ternyata kau di sini. Kau mengkhawatirkanku, aku takut kau lari karena perjodohan, mungkin sekarang Ali sedang mengucapkan, 'Saya terima nikahnya'," tiba-tiba datang bibi dari mempelai pria, bibinya Ali, bibinya Fahmi juga.

"Tenang bibiku, aku bahagia dijodohkan dengan Mas Ali. Aku tidak akan lari, aku hanya resah dengan hari ini, dan aku pun sedang bertanya-tanya kepada calon adik iparku tentang Mas Ali," jawab Zainab.

"Ayo pokoknya cepat ke sebelah mempelai lelaki."

"Iya, Bi,”  jawab Zainab.

Zainab melangkah ke dalam dan saat baru lima langkah Zainab membalikkan badan.

"Fahmi, hapus air matamu. Masa di foto keluarga kau bersedih sendiri, kau tak mau kan aku ceritakan ke semua hadirin bahwa aku hampir dibawa lari oleh Sang Calon Adik Ipar?"

"Kau tak sopan, Zainab! Memanggilku Fahmi! Aku lebih tua darimu!" tatap Fahmi.

"Fahmi, kau lupa aku sudah menjadi kakak iparmu? Ikrar telah diucapkan, kami telah sah! Seharusnya kau tahu bahwa aku seorang yang pendendam dan tak harus berteriak dengan kata kasar untuk membalasmu, bukankah bait-bait puisi yang kuucapkan lebih sakit dari kata kasarmu? Selamat serumah Fahmi" Zainab melangkah dengan senyum hangat, menuju Ali kakak Fahmi yang sudah menjadi suaminya

"Kau serumah denganku Zainab, tapi tak hidup di sampingku! Ahhh, aku salah menilaimu. Kukira kau gadis lugu dan mengapa sekarang kau sangat merebut hatiku!" teriak Fahmi kepada Zainab yang melangkah dengan mantap.

Ombak pun mulai bersuara, seolah-olah paham bahwa Fahmi mulai menangis. Ombak berusaha menutupi suara tangisan Fahmi dengan suara derunya.


***

oleh Nabila Tinezia




No comments:

Post a Comment

Jangan

JANGAN Jangan ganggu aku Atau aku yang menghadirkanmu? Jangan bergerak dalam kepalaku Atau aku yang menyutradaimu? M...