Deru
ombak yang tampak samar di mata seorang wanita yang sedang menatapnya, entah
sebuah kebahagian atau kesedihan, tetapi matanya yang melihat laut lepas itu
mulai berkaca-kaca. Ia di tepi balkon lantai tiga sebuah villa pribadi tetap
melihat laut.
Entah
apa yang ada di benaknya, yang pasti ada sebuah langkah, ada sebuah keputusan,
ada sebuah tekad, banyak gejolak, dan banyak kisah dalam sebuah foto yang ia
pegang.
"Jika
kau tak yakin untuk melangkah, kau bisa mundur. Aku tak apa, keluargaku pun
akan kuusahakan untuk memaklumi," ujar seorang pria yang baru saja datang
dan sekarang berdiri di samping Si Wanita.
Si
Wanita hanya membalas dengan senyum hangat.
"Bukankah
dalam bait Kitab Imrithy dikatakan 'setiap orang yang tak yakin tidak akan
mendapatkan manfaat'," ucap Si Lelaki.
"Ya,
aku tahu dan tidak akan takut orang yang yakin. Kau tahu? Sekarang aku tidak
takut atau ragu kok. Terima kasih dulu kau mengajarkannya kepadaku, Mas Fahmi,"
jawab Si Wanita.
"Kau
masih menganggapku kekasih, Zainab?" dengan matanya sama-sama melihat ke
arah laut
"Aku
masih selalu mendoakanmu, menepati janjiku untuk mendoakanmu," kepalanya
menoleh kepada Fahmi dengan senyum hangat dan Fahmi pun menoleh
"Ohw,
kau memandang laut dengan mata hampir basah, sedangkan tanganmu memegang
fotoku?" tanya Fahmi dengan senyum yang tak tahu apa artinya.
"Ya,
ini fotomu. Sungguh, ada rasa sangat bahagia ketika aku melihatnya,
Fahmi."
Mereka
dengan jarak sekitar tiga meter sama-sama melihat laut, entah apa yang ada
dalam benak masing-masing. Entah apa arti dari tatapan mata mereka, yang jelas
ombaklah yang hanya terdengar di antara mereka karena para undangan baru
berdatangan, dan para keluarga pun sedang sibuk untuk mempersiapkan sebuah hari
yang sakral.
"Kamu
tahukan, Zainab? Bahwa dalam hadis dikatakan 'Tinggalkan perkara yang
meragukanmu ke perkara yang tidak meragukanmu’," tanya Fahmi dengan tajam.
"Aku
paham Mas Fahmi, paham."
"Zainab,
kau tahu apa yang paling aku cemburui? Debu! Aku paling cemburu kepada debu karena
ia bisa kapan saja menyentuh kulitmu."
"Fahmi,
apakah kau tahu juga? Bahwa katanya dahulu pada zaman jahiliyah, ada seorang
penyair yang bertanya kepada kambing, katanya, 'Wahai kambing apakah Fatimah
kekasihku adalah bangsaku atau bangsamu?' Maksudnya ia bertanya apakah
kekasihnya itu bangsa Si Penyair yang mencintainya sehingga ia sama-sama
mencintai atau bangsa Si Kambing yang tak punya cinta. Aku pun pernah bertanya
seperti itu, tapi kepada dinding kamarku dan aku tidak tahu apa jawaban dinding
itu."
"Jawabannya
ada pada syair Gus Mus, ya, Gus Ahmad Musthafa Bishri, 'Ku lihat cermin tak terlihat apapun. Bahkan, wajahku sendiri. Aku
hanya melihat wajahmu'," sekarang mata mereka saling bertatap.
"Aku
pernah membuat syair untukmu Fahmi! 'Telah
sedang aku coba nafikan. Apa-apa yang bukan hakmu. Melawan anugerah untuk
rahmah sehingga cahaya itu bisa memantul. Tiap-tiap sel saraf, darah, jiwa,
lisan, mata, hingga rupa dan kau tinggal menjemput dalam keadaan suka,'
begitulah Fahmi syair untukmu."
Ombak,
masih deru ombak yang terdengar. Sekarang mata mereka saling bertatap dengan
air mata yang menggumpal hampir terjatuh.
"Aku
pun tahu Fahmi di saat Nabi Musa akan berpisah dengan Nabi Khidlir. Nabi Musa
gagal menjadi muridnya. Ia meminta kepada Nabi Khidlir sebuah nasihat, Nabi
Khidlir berkata, ‘Janganlah sekali-sekali kau buka pintu yang tak bisa kau
kunci dan janganlah pula mengunci pintu yang tak bisa kau buka,' Aku tahu
Fahmi, aku mengatakannya karena aku tahu kau akan mengucapkan itu," ucap
Zainab, dengan senyum yang manis dan air matanya hampir saja jatuh.
"Air
matamu hampir jatuh Zainab, janganlah kau menangis di hadapanku, nanti make up-mu luntur. Said Nursi, kau
tahu?"
"Ya,
aku tahu, 'Yang paling berhak dicintai adalah cinta itu sendiri dan yang paling
berhak diperangi adalah perang itu sendiri,' itu syairnya, Fahmi, aku tahu,"
senyum Zainab semakin hangat dan manis.
"Kebenaran
telah dekat denganmu dari urat hadimu. Eh,
engkau malah melepaskan anak panah pemikiran menjauh. Filsuf bunuh diri karena
pemikiran yang meletihkan," kata Fahmi dengan tatapan mata yang semakin dalam.
"Itu
bukan kata-katamu, Fahmi. Itu kata-kata Jalaluddin Rumy, di dalam kitab Fihi Ma Fihi, kah? Ah, aku lupa dalam
kitab apa itu,” timpal Zainab.
"Aku
tak paham Zainab, sungguh! Aku telah mengatakan semua isi hatiku dan kau
menyambutnya sama. Tapi kau tetap yakin untuk melangkah ke hari yang sakral
ini? Para undangan sudah datang dan aku sudah mengatakan bahwa keluargaku bisa memaklumi
jika kau mundur jika kau membatalkan pernikahan ini. Kau telah memakai gaun,
aku pun sudah memakai jas. Lelaki tidak perlu berdandan, kan? Kau pun masih memegang
fotoku, kau juga mengatakan bahagia melihat fotoku, ditambah matamu pun
berkaca-kaca, aku tak paham, Zainab, sungguh tak paham!" nada suara Fahmi
mulai menaik, tetapi matanya memelas.
"Fahmi,
aku sudah lelah mengatur diriku, mataku lelah karena hanya ingin melihat apa
yang aku ingin, hatiku lelah karena terus saja mengatur. Aku akan serahkan
kepada-Nya segala urusanku, biarkan Ia mencukupi dengan kehendak-Nya,
Fahmi. Soal fotomu? Aku sangat bahagia
karena saat melihat fotomu tak ada lagi sesak, aku bahagia karena rasa itu
telah hilang. Soal aku menyambut hatimu? Bukankah itu caramu dahulu? Aku
menyambutmu dengan sepenuh hati, sedangkan kau datang hanya sebatas bait puisi.
Air mataku sungguh akan jatuh, berterima kasih kepada Yang Maha Kasih karena
telah memilihkan untukku seorang lelaki yang datang dengan hati dan aku pun
telah memutuskan menyambutnya dengan sepenuh hati,” kata Zainab mengejutkan
Fahmi.
Fahmi
diam tak bisa berbicara apa-apa. Ia sungguh terkejut dengan apa yang dikatakan
Zainab.
Zainab
pun meneruskan kata-katanya, “Perjodohan tak selalu mengerikan ternyata,
bukankah kau yang sering bercerita? Bahwa kakakmu sangat bertolak belakang
denganmu? Ia pendiam, tak pernah mempunyai hubungan, aku tambahkan bahwa ia
bertanggung jawab tak akan meninggalkanku dan dia sangat setia, karena katamu
juga ia kebalikan denganmu dan dia juga lebih tampan, lebih pintar. Apa? Kau
mau berkata bahwa ia awam agama? Tapi bukankah ia lebih pintar darimu, dulunya
pernah sama-sama mondok, hanya saja ia meneruskan kuliah sedangkan kau masih
dalam track yang sama."
"Kau
jahat, Zainab! Kau mengatakan itu semua kepadaku?" air mata Fahmi hampir
jatuh.
"Siapa
yang jahat, Fahmi? Aku atau kau? Siapa yang meninggalkanku? Berteriak di hadapanku
saat itu dengan kata-kata kasarmu dan kau tak menjelaskan apa-apa. Kau hanya
berkata bahwa aku tak akan paham, kau berkata bahwa rasamu selama ini hanya
bagian drama untuk menjagaku. Lalu, kau melangkah meliuk dengan seorang wanita yang sekarang wanita itu telah menikah dengan
yang lain.
Siapa
yang jahat Fahmi? Kau membujuk kekasih kakakmu untuk kembali lagi denganmu di
hari pernikahannya dan berkata bahwa pihak keluarga bisa memaklumi. Aku paham
maksudmu, kau menyuruhku untuk berkata di hadapan semua bahwa kita pernah
memiliki rasa dan aku sekarang lebih baik menikah denganmu karena lelaki saat
pernikahan hanya memakai jas, jadi tidak ribet jika mempelai pria diganti.
Siapa yang jahat, Fahmi?" jawab Zainab dengan hangat dan tenang.
Sekarang
hening, bahkan ombak pun hening, tak ada burung berkicau, hanya angin, hanya
angin. Mereka seolah mendengar percakapan dua anak Adam yang pernah merakit
sebuah kisah, seolah mereka tercengang dengan kata-kata terakhir Zainab yang
tenang dan hangat.
Zainab
tersenyum selalu selama percakapan, sedangkan Fahmi dengan emosi yang naik
turun, mereka bisa merasakan gelombang rasa dua insan itu.
Masih
hening, Fahmi terpaku dengan mata yang dalam menghadap ke arah Zainab. Ingin ia
memohon memegang tangan Zainab, tetapi Ia tahu tentang Jahannam. Ia tatap
Zainab dengan lekat, seorang wanita yang pernah ia siakan, ia tatap wajah
Zainab, seseorang yang pernah saling berharap akan masa depan.
"Zainab!
Bibi cari kau kemana-mana, ternyata kau di sini. Kau mengkhawatirkanku, aku
takut kau lari karena perjodohan, mungkin sekarang Ali sedang mengucapkan,
'Saya terima nikahnya'," tiba-tiba datang bibi dari mempelai pria, bibinya
Ali, bibinya Fahmi juga.
"Tenang
bibiku, aku bahagia dijodohkan dengan Mas Ali. Aku tidak akan lari, aku hanya
resah dengan hari ini, dan aku pun sedang bertanya-tanya kepada calon adik
iparku tentang Mas Ali," jawab Zainab.
"Ayo
pokoknya cepat ke sebelah mempelai lelaki."
"Iya,
Bi,” jawab Zainab.
Zainab
melangkah ke dalam dan saat baru lima langkah Zainab membalikkan badan.
"Fahmi,
hapus air matamu. Masa di foto keluarga kau bersedih sendiri, kau tak mau kan
aku ceritakan ke semua hadirin bahwa aku hampir dibawa lari oleh Sang Calon
Adik Ipar?"
"Kau
tak sopan, Zainab! Memanggilku Fahmi! Aku lebih tua darimu!" tatap Fahmi.
"Fahmi,
kau lupa aku sudah menjadi kakak iparmu? Ikrar telah diucapkan, kami telah sah!
Seharusnya kau tahu bahwa aku seorang yang pendendam dan tak harus berteriak
dengan kata kasar untuk membalasmu, bukankah bait-bait puisi yang kuucapkan
lebih sakit dari kata kasarmu? Selamat serumah Fahmi" Zainab melangkah
dengan senyum hangat, menuju Ali kakak Fahmi yang sudah menjadi suaminya
"Kau
serumah denganku Zainab, tapi tak hidup di sampingku! Ahhh, aku salah
menilaimu. Kukira kau gadis lugu dan mengapa sekarang kau sangat merebut hatiku!"
teriak Fahmi kepada Zainab yang melangkah dengan mantap.
Ombak
pun mulai bersuara, seolah-olah paham bahwa Fahmi mulai menangis. Ombak
berusaha menutupi suara tangisan Fahmi dengan suara derunya.
***
oleh Nabila Tinezia
No comments:
Post a Comment