Di sebuah kamar yang masih hangat dengan pernak-pernik
pernikahan duduklah seorang wanita di sajadah berdzikir kepada Allah.
"Allah, Allah. Laa
ilaaha illa anta subhaanaka inni kuntu minadz dzalimin," lirih Si
Wanita.
Lirihan Si Wanita itu memiliki arti Tiada tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau,
sesungguhnya aku termasuk orang yang dzalim.
Mata Si Wanita cekung karena tiga hari setelah
pernikahannya ia tidak berhenti menangis, tidak makan, tidak minum, dan hanya
duduk di atas sajadah, sedangkan di belakang Si Wanita duduk dengan sabar
seorang pria untuk membujuk Si Wanita agar makan atau setidaknya minum.
"Zainab, makanlah atau setidaknya minum. Jangan kau
siksa dirimu, keluarga di luar sangat mengkhawatirkanmu," ucap Si Lelaki
kepada Zainab yang tiga hari lalu sudah menjadi istrinya.
"Sewaktu aku mondok aku diceritakan oleh Kyai Sajid
bahwa ada seorang wali perempuan yang dianggap gila karena berteman dengan
hewan ternak dan hewan buas, anehnya hewan buas tidak menerkam hewan ternak.
Oleh karenanya, ada yang bertanya kepada Wanita yang dianggap gila itu,
'Mengapa hewan yang ada di sekelilingmu rantai makanannya tidak berjalan?' Si
Wanita Gila itu menjawab, 'Aku memperbaiki hubunganku dengan Allah, maka
sekelilingku pun baik'," jawab Zainab masih memunggungi Si Lelaki.
"Aku pun sedang memperbaiki hubunganku dengan Allah,
agar sekelilingku baik!" ucap Zainab meneruskan kalimatnya dengan air mata
yang mengalir.
"Makanlah agar kau bisa memperbaiki hubungan Tuhan
dengan lebih baik," masih bujuk Si Lelaki.
"Kita ini dijodohkan. Lupakanlah masa lalumu yang
menyakitkan, kita rajut kisah baru," bujuk Si Lelaki yang mana tiga hari
yang lalu menjadi suami Zainab.
"Allah, Allah. Astagfirullah,
aku telah berdosa karena terlena selain-Mu, tapi kekasihku oh kekasihku,"
lirih Zainab.
"Zainab, kau telah setuju dengan sebuah perjodohan
tapi mengapa kau begini? Lupakanlah dia, orang yang pernah kau cintai
itu," ucap Suami Zainab.
"Aku masih mencintainya!" bantah Zainab.
Hening, di kamar itu hening kembali oleh obrolan pasangan
itu. Dzikir, hanya dzikir yang terdengar dari mulut Zainab yang memenuhi
ruangan. Sementara itu, para keluarga hanya bisa diam di luar kamar karena
Zainab tidak ingin ada yang masuk kamarnya kecuali suaminya.
"Zainab di dalam kitab Alfiyyah dikatakan, 'Jangan mendatangkan yang jauh, sedangkan masih
ada yang dekat,' jangan kau datangkan orang jauh yang meninggalkanmu, sedangkan
aku ada di sini," ucap suami Zainab dengan sabar.
"Tidak, Mas! Kami tidak jauh, kami sedekat ludah
dengan lidah. Bukankah jarak dan waktu bagi seorang pecinta itu bukan
masalah?" jawab Zainab masih memunggungi.
"Zainab, ini takdirmu, terimalah. Takdirmu menjadi
istriku," ucap suami Zainab.
"Bukankah takdirku pula sekarang ingin mendekatkan
diri kepada-Nya?" timpal Zainab.
"Cukup Zainab jangan membuat imammu lelah!"
nada suara Lelaki itu menaik.
"Kamu lelah, Fahmi? Talaklah aku, Fahmi. Talak aku.
Talak tiga aku, Fahmi. Daripada aku merepotkanmu," melas Zainab sambil
membalikkan badannya.
"Tidak, Zainab. Aku tidak akan menceraikanmu, tidak
akan," jawab Fahmi.
"Tapi kenapa, Fahmi? Kenapa kau yang sekarang
menjadi suamiku, Fahmi?" air mata Zainab turun seperti air terjun.
"Ini takdir Allah, Zainab," jawab Fahmi sambil
tangannya akan memegang tangan Zainab dan tangan Zainab pun segera menghindar.
"Tanganku menghindar dari tanganmu itu pun takdir
Allah. Fahmi, ke mana Mas Ali, Fahmi? Mengapa dia hilang?" Zainab dengan
menutup kedua matanya yang basah.
"Ia pergi meninggalkanmu, Zainab," tegas Fahmi
yang sekarang berubah menjadi lelaki sangat lembut kepada Zainab.
"Tidak, Fahmi! Pasti ada sebuah alasan, ia tidak
sepertimu, Fahmi, tidak."
Zainab masih menangis dengan air mata yang tak bisa
berhenti, ia tidak paham atas apa yang terjadi.
Setelah meninggalkan Fahmi di balkon tiga hari yang lalu
dan ia segera menunggu Mas Ali di kamar pengantin, tidak diduga yang datang
adalah Fahmi. Bersamaan dengan itu, Mas Ali tidak terlihat setelah hari itu.
Para undangan yang datang hanya dari keluarga terdekat
saja sehingga mereka pun sama sekali tidak menjelaskan alasan atas semuanya.
"Fahmi, ceraikan aku, Fahmi!" paksa Zainab.
"Tidak Zainab, aku akan menunggumu hingga kau
mencintaiku," jawab Fahmi dengan datar.
"Ali, Ali, Ali," ucap Zainab lalu jatuh
pingsan. *******
Oleh Nabila Tinezia
No comments:
Post a Comment