Sunday, 4 February 2018

FAHMI



Di sebuah kamar yang masih hangat dengan pernak-pernik pernikahan duduklah seorang wanita di sajadah berdzikir kepada Allah.

"Allah, Allah. Laa ilaaha illa anta subhaanaka inni kuntu minadz dzalimin," lirih Si Wanita.
Lirihan Si Wanita itu memiliki arti Tiada tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang yang dzalim.

Mata Si Wanita cekung karena tiga hari setelah pernikahannya ia tidak berhenti menangis, tidak makan, tidak minum, dan hanya duduk di atas sajadah, sedangkan di belakang Si Wanita duduk dengan sabar seorang pria untuk membujuk Si Wanita agar makan atau setidaknya minum.

"Zainab, makanlah atau setidaknya minum. Jangan kau siksa dirimu, keluarga di luar sangat mengkhawatirkanmu," ucap Si Lelaki kepada Zainab yang tiga hari lalu sudah menjadi istrinya.

"Sewaktu aku mondok aku diceritakan oleh Kyai Sajid bahwa ada seorang wali perempuan yang dianggap gila karena berteman dengan hewan ternak dan hewan buas, anehnya hewan buas tidak menerkam hewan ternak. Oleh karenanya, ada yang bertanya kepada Wanita yang dianggap gila itu, 'Mengapa hewan yang ada di sekelilingmu rantai makanannya tidak berjalan?' Si Wanita Gila itu menjawab, 'Aku memperbaiki hubunganku dengan Allah, maka sekelilingku pun baik'," jawab Zainab masih memunggungi Si Lelaki.

"Aku pun sedang memperbaiki hubunganku dengan Allah, agar sekelilingku baik!" ucap Zainab meneruskan kalimatnya dengan air mata yang mengalir.

"Makanlah agar kau bisa memperbaiki hubungan Tuhan dengan lebih baik," masih bujuk Si Lelaki.

"Kita ini dijodohkan. Lupakanlah masa lalumu yang menyakitkan, kita rajut kisah baru," bujuk Si Lelaki yang mana tiga hari yang lalu menjadi suami Zainab.

"Allah, Allah. Astagfirullah, aku telah berdosa karena terlena selain-Mu, tapi kekasihku oh kekasihku," lirih Zainab.

"Zainab, kau telah setuju dengan sebuah perjodohan tapi mengapa kau begini? Lupakanlah dia, orang yang pernah kau cintai itu," ucap Suami Zainab.

"Aku masih mencintainya!" bantah Zainab.

Hening, di kamar itu hening kembali oleh obrolan pasangan itu. Dzikir, hanya dzikir yang terdengar dari mulut Zainab yang memenuhi ruangan. Sementara itu, para keluarga hanya bisa diam di luar kamar karena Zainab tidak ingin ada yang masuk kamarnya kecuali suaminya.

"Zainab di dalam kitab Alfiyyah dikatakan, 'Jangan mendatangkan yang jauh, sedangkan masih ada yang dekat,' jangan kau datangkan orang jauh yang meninggalkanmu, sedangkan aku ada di sini," ucap suami Zainab dengan sabar.

"Tidak, Mas! Kami tidak jauh, kami sedekat ludah dengan lidah. Bukankah jarak dan waktu bagi seorang pecinta itu bukan masalah?" jawab Zainab masih memunggungi.

"Zainab, ini takdirmu, terimalah. Takdirmu menjadi istriku," ucap suami Zainab.

"Bukankah takdirku pula sekarang ingin mendekatkan diri kepada-Nya?" timpal Zainab.

"Cukup Zainab jangan membuat imammu lelah!" nada suara Lelaki itu menaik.

"Kamu lelah, Fahmi? Talaklah aku, Fahmi. Talak aku. Talak tiga aku, Fahmi. Daripada aku merepotkanmu," melas Zainab sambil membalikkan badannya.

"Tidak, Zainab. Aku tidak akan menceraikanmu, tidak akan," jawab Fahmi.

"Tapi kenapa, Fahmi? Kenapa kau yang sekarang menjadi suamiku, Fahmi?" air mata Zainab turun seperti air terjun.

"Ini takdir Allah, Zainab," jawab Fahmi sambil tangannya akan memegang tangan Zainab dan tangan Zainab pun segera menghindar.

"Tanganku menghindar dari tanganmu itu pun takdir Allah. Fahmi, ke mana Mas Ali, Fahmi?  Mengapa dia hilang?" Zainab dengan menutup kedua matanya yang basah.

"Ia pergi meninggalkanmu, Zainab," tegas Fahmi yang sekarang berubah menjadi lelaki sangat lembut kepada Zainab.

"Tidak, Fahmi! Pasti ada sebuah alasan, ia tidak sepertimu, Fahmi, tidak."

Zainab masih menangis dengan air mata yang tak bisa berhenti, ia tidak paham atas apa yang terjadi.

Setelah meninggalkan Fahmi di balkon tiga hari yang lalu dan ia segera menunggu Mas Ali di kamar pengantin, tidak diduga yang datang adalah Fahmi. Bersamaan dengan itu, Mas Ali tidak terlihat setelah hari itu.

Para undangan yang datang hanya dari keluarga terdekat saja sehingga mereka pun sama sekali tidak menjelaskan alasan atas semuanya.

"Fahmi, ceraikan aku, Fahmi!" paksa Zainab.

"Tidak Zainab, aku akan menunggumu hingga kau mencintaiku," jawab Fahmi dengan datar.

"Ali, Ali, Ali," ucap Zainab lalu jatuh pingsan. *******





Oleh Nabila Tinezia

No comments:

Post a Comment

Jangan

JANGAN Jangan ganggu aku Atau aku yang menghadirkanmu? Jangan bergerak dalam kepalaku Atau aku yang menyutradaimu? M...