Di
malam yang hening, sesekali hanya angin yang berbisik manja pada telinga
seorang wanita yang sedang menikmati udara malam di atas genting rumahnya.
Matanya yang bulat menatap langit penuh dengan semangat, sedangkan langit
dengan bangganya memperlihatkan kekuasan-Nya berupa hamparan bintang-bintang
yang indah.
Mata
Si Wanita begitu bahagia, terkadang bibirnya naik sebeleh sedikit atau
menggosokan kedua tangannya, dingin memang, tetapi ia menikmati malam itu.
Semua
arti matanya tertuju pada masa lalu saat ia mondok sewaktu SMA. Ia pernah
dengan begitu bodohnya percaya dengan pengurus asrama laki-laki yang di matanya
laki-laki itu priyayi dengan segala puisinya sampai-sampai memberikan hatinya
kepada laki-laki itu. Salahnya Si Wanita meragukan 999 orang karena percaya dan
yakin kepada satu orang, Fahmi, ya nama laki-laki itu Fahmi, dan mata yang
sedang menatap langit itu mata Zainab.
Dalam
hati Zainab mengatakan, "Yup, benar di dalam kitab dikatakan, 'Cinta itu membutakan
dan menulikan'."
Yang
ia yakini hanya Fahmi saat itu, tak peduli apa kata orang yang menyebut Fahmi
hanya memanfaatkanlah, Fahmi berhubungan dengan Ning Zahra, Fahmi juga
berhubungan dengan Alya, atau Fahmi Si Sok Suci.
Untungnya,
Zainab mau mendengarkan apa kata Kyai Sajid bahwa dunia tak sesempit puisi
Fahmi, tak serumit penjelasan Fahmi akan pertanyaan Zainab mengenai semua
perkataan orang, dan mendengarkan bahwa hidup di dunia untuk akhirat. Buktinya,
setelah memutuskan meninggalkan Fahmi, beasiswa untuk kuliah di universitas negeri
yang terkenal datang kepada Zainab karena ia telah menghapal Quran, sedangkan
Fahmi? Kalimat-kalimat Fahmi berubah menjadi kasar yang tak berfaedah dan ia
pun memang berhubungan dengan Alya teman Zainab sekaligus dengan Ning Zahra
keponakan Kyai Sajid. Jika mengingat itu, ada rasa sesak karena kebodohannya di
masa lalu dan ada rasa senang bahwa dia bisa keluar dari zona itu.
Tiba-tiba
mata Zainab yang menatap langit berubah maknanya, kali ini matanya semakin
semangat, namun hangat. Ternyata, setelah semua alur itu Zainab bernostalgia
dengan masa lalu yang sebenarnya baru terjadi dua minggu lalu. Setelah ia baru
saja selesai menyelesaikan kuliahnya dan menjadi Sarjana Fisika ia langsung
dijodohkan dengan seorang pria yang tinggi, putih, baik, tampan, cerdas, brilian,
pengertian, dan juga seorang Sarjana IT.
Zainab
langsung dikenalkan dengan pria itu ke keluarganya. Saat pertama bertemu Zainab
hanya biasa saja karena melihat wajah calonnya mengingatkan Zainab pada
seseorang. Lalu, ternyata benar pria yang akan dijodohkan dengan Zainab itu
kakak kandung dari Fahmi, Zainab terkejut, dan Fahmi pun sama terkejut.
Bagaimana tidak? Seseorang yang pernah Fahmi sakiti akan menjadi kakak iparnya?
Adapun
Ali, kakak Fahmi, tidak tau apa-apa tentang hal itu.
Ali
dan Zainab saling kenalan melalui Hp, kadang pesan singkat, telepon, atau video call. Ali seseorang yang sangat
menyenangkan di mata Zainab. Mereka
membahas Fisika dan juga IT dalam percakapan mereka di telepon, mungkin
itu yang membuat mereka cepat jatuh hati. Di sisi lain Ali pun seorang yang
sangat dewasa dan tegas dengan gaya santainya.
Setelah
satu minggu saling kenal, mereka langsung mengadakan lamaran. Keluarga tak mau
menunda lama, keluarga menilai mereka berdua sudah cocok dan Ali pun sudah
mempunyai pekerjaan yang lumayan di suatu perusahaan informatika dengan posisi
yang lumayan penting.
Mata
Zainab walau sudah ngantuk masih betah dengan malam dan langit, masih terus
bernostalgia tentang percakapan dengan Ali. Namun, nostalgia Zainab terpecahkan
dengan suara dering handphone-nya.
"Assalamu'alaikum, Zainab," ucap
suara seorang pria di seberang jaringan sana.
"Wa'alaikum salam, Mas Ali," jawab
Zainab semangat.
"Zainab
lagi di mana? lagi apa?" tanya Ali.
"Zainab
lagi apa ya, pokoknya Zainab lagi di atas genting."
"Lho?
Kok di atas genting, nanti sakit gimana? Mending sekarang masuk rumah karena
dua hari lagi hari pernikahan kita, Mas Ali juga mau masuk ke kamar terus
tidur," goda Ali.
"Iya,
mas. Emang mata Zainab udah 2,5 watt nih," goda balik Zainab.
"Ah
kamu, bisa aja. Selamat Malam Zainab. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum
Salam."
* *
*
Sebelum
akad, Ali ingin sekali melihat calon istrinya, Zainab, agar tidak tegang dan
lebih tenang.
Tak
heran, Ali mencari Zainab, tak apa tidak betegur sapa, setidaknya melihat saja
Ali pun sudah senang.
Ali
menemukan Zainab sedang menatap laut di balkon villa lantai tiga milik
keluarganya, Ali menatap Zainab hanya dari kejauhan, yaitu di dalam ruangan
saja. Ada sekilas niat untuk Ali menyapa Zainab, namun ketika ingin melangkah,
datang Fahmi dari arah lain yang langsung berdiri di samping Zainab. Pikir Ali
mungkin Fahmi adiknya ingin berkenalan dengan kakak iparnya.
Ali
memutuskan untuk tidak melangkah dan berdiri di balik tiang yang agak jauh dari
mereka, namun tetap bisa mendengarkan percakapan mereka.
Ali
mendengarkan semuanya. Ia sangat terkejut dan ada rasa kecewa terhadap Zainab
yang tidak menceritakan semuanya.
Setelah
datang bibi Fahmi dan Zainab melangkah ke dalam villa, Ali mendekati Fahmi yang
sedang menatap kepergian Zainab.
"Fahmi!"
tegur Ali.
Fahmi
pun membalikkan badannya.
"Mas
Ali? Kau mendengarkan semuanya, kan? Mas batalkan pernikahan ini!" ucap
Fahmi.
"Tidak
Fahmi! Pernikahan dan cinta tidak sebercanda itu!" tutur Ali.
"Maka
dari itu, kamu sebagai kakak dan seorang dewasa membuka mata bahwa Zainab
menikahimu karena wajah kita mirip, dan kakak tidak kufu atau setara dengan Zainab!"
"Maksudmu,
Fahmi?" tanya Ali.
"Ia
seorang hafidzah, ahli agama, fisika,
bahkan menguasai kitab Ihya,
sedangkan kamu, Mas? Hanya seorang manager, memang kamu lebih kaya, tapi
bagaimana caranya menuntun Zainab?" jawab Fahmi.
Ali
menerawang maksud dari Fahmi, menerawang tentang semua yang baru saja terjadi.
"Kak,
apa kau tega memisahkan dua orang yang saling mencintai, saling menatap dalam
rumah yang sama tapi tak bisa bersama? Apa kau tega membiarkan adikmu
menderita? Tega dengan dirimu sendiri yang hanya pura-pura tidak tahu lantas
terus mencintai?" sugesti Fahmi.
"Fahmi
memang aku tak sepaham tentang agama sepertimu, tapi Zainab takkan aku
lepaskan!" tegas Ali.
"Mas,
akankah aku harus jadikan laut sebagai saksi? Bahwa hidup tak bisa kulalui
lagi," ucap Fahmi.
"Fahmi,
dewasalah! Terimalah semua ini, aku tidak bisa melepaskan Zainab dan bagaimana
dengan keluarga kita?" tutur Ali.
"Mas
yang hadir hanya keluarga inti saja, ditambah bibi dan nenek, ini mudah. Atau
jika Mas tak bisa melepaskan Zainab mungkin Mas bisa melepaskanku?" ancam Fahmi,
yang bermaksud ingin bunuh diri terjun ke laut.
"Fahmi,
dewasalah! Kau ingin bersama Zainab, tapi tak dewasa?" cegah Ali.
"Kau
bilang aku tidak dewasa? Ini bukan dewasa atau tidak, Mas! Inilah cinta! Apakah
Si Majnun itu tidak dewasa dengan gilanya ia karena Laila?" timpal Fahmi
yang akan melompat.
Ali
memegang tangan Fahmi untuk mencegahnya. Dalam cegahannya terhadap Fahmi, Ali
berpikir berusaha untuk dewasa dan bijak, banyak pertanyaan di otak Ali untuk
memahami semua.
"Apakah
Zainab masih mencintai Fahmi? Apakah aku sanggup terus berpura-pura bahwa tidak
terjadi apa-apa? Tapi apakah benar semua ucapan Fahmi bahwa mereka masih saling
mencintai? Karena sikap Zainab tidak ada cela sedikit pun tentang hal itu, tapi
jika Fahmi berbohong tetap saja dia akan menderita melihat kami, tapi jika aku
berikan Zainab?" pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepala Ali.
"Fahmi,
ayo kita masuk, kita bicarakan semuanya dengan keluarga!" tegas Ali.
* *
*
Sementara
itu Zainab yang mengira bahwa akad sudah berlangsung, langsung menuju ruang
akad, dan ternyata di sana tidak ada tanda-tanda bahwa sudah akad karena tidak
ada Ali.
"Nak,
kamu tunggu di kamar saja saat akad, tidak baik pasangan yang belum halal duduk
bersebelahan walaupun itu akan akad. Biar suami nanti yang nyamperin ke
kamar," ucap ibu Zainab.
Zainab
pun melangkah menuju kamar, tidak ada rasa aneh dalam dirinya, semua seperti
biasa saja, semua baik-baik saja, semua sesuai rencananya.
Sesampai
di kamar dengan rasa bahagia Zainab siap menunggu Ali.
Di
ruangan lain, Ali, Fahmi, dan keluarga sedang berkumpul.
"Maaf
kepada keluarga Zainab dan keluarga saya sendiri, mungkin ini terlalu mendesak
atau memalukan, tapi saya tidak bisa melangsungkan pernikahan ini," jelas
Ali kepada keluarga.
Seketika
itu kening-kening keluarga Ali dan Zainab mengerut, mulai bisik-bisik yang
sebenarnya mereka pun tak berbisik hanya sepintas perasaan yang tak bisa mereka
utarakan, hanya sesirat kekecewaan terhadap Ali, tapi mereka tahu siapa Ali.
"Ceritakan!
Ada apa ini?" tanya Ayah dari Ali dengan sedikit marah.
"Ali
ingin meneruskan S2 di Jakarta, jujur Ali belum siap untuk menikah, Ali belum
bisa mencintai Zainab sepenuhnya, Ali takut malah menyakiti Zainab," ucap
Ali.
"Nak,
terus kamu ingin mempermalukan semua ini? Membubarkan ini semua?" tanya
Mamah Ali dengan air mata berkaca-kaca.
"Tidak,
Mah. Walaupun Ali lebih tua dari Fahmi, tapi Fahmi lebih siap untuk menikah
daripada Ali. Fahmi paham akan agama, cara menjalankan rumah tangga, dan Fahmi
pun ternyata bisa lebih mencintai Zainab karena Zainab pun mencintai
Fahmi," ucap Ali.
Semua
hening, Ali dikenal sebagai anak yang bijak di keluarganya, semua keputusannya
tidak pernah orang tuanya permasalahkan. Semua berusaha berprasangka baik
kepada Ali bahwa keputusannya bijak seperti biasa.
Orang
tua Zainab seolah-olah beku semua tubuhnya, entah apa yang harus mereka
lakukan, entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Sementara itu, Mamah Zainab
berdiri dan menuju kamar Zainab dengan mata berkaca-kaca.
"Zainab,
kamu setuju, kan, atas perjodohan? Kamu ikhlas menerimanya sebuah perjodohan apa
pun itu?" tanya Mamah Zainab seketika tiba di kamar Zainab.
"Ada
apa, Mah? Zainab menerima sepenuhnya keputusan Mamah dan Papah, Zainab Insyaallah ikhlas," jawab Zainab
dengan tersenyum manis.
Di
waktu bersamaan akad pun akan dimulai, semua telah memutuskan bahwa Fahmilah
yang akan dijodohkan dengan Zainab, sedangkan Ali setelah akad akan langsung
pulang ke rumahnya dan pergi ke Jakarta untuk beberapa bulan ke depan untuk
menjalani beasiswa S2-nya.
Ikrar
pun telah Fahmi ucapkan, semua berdoa dengan perasaan yang tak mereka pahami
masing-masing. Bahkan, Fahmi pun tak tahu apa perasaannya, semua seolah hambar,
seolah menanti sebuah dentuman, seolah semua mengorbankan perasaan
masing-masing entah untuk siapa, entah karena apa.
Fahmi
pun melangkah menuju kamar Zainab, sedangkan Ali langsung melangkah pergi tak
mau menyaksikan semuanya. Ada perasaan yang dalam meliputi Ali. Ia pergi, tak percaya apa yang telah terjadi karena
beberapa jam yang lalu, Zainab-lah satu-satunya yang ingin ia lihat, tetapi
sekarang? Zainab satu-satunya yang tak ingin ia lihat lagi, tak ingin ia kenang
lagi. Bukan karena salah Zainab, Zainab tidak salah.
"Fahmi?
Astagfirullah, mengapa kau masuk
kamarku?" tanya Zainab yang kaget ketika Fahmi memasuki kamarnya.
Masuklah
kedua orang tua Zainab, menatap anaknya yang mereka pikir bahagia karena
dijodohkan dengan Fahmi. Zainab melihat kedua orang tuanya serta Fahmi yang
berada di hadapannya langsung bisa memahami apa yang telah terjadi, memahami
bahwa Fahmi telah membatasi dunianya dengan bait puisi melalui orang tuanya.
Zainab
yang menatap ketiganya yang sekarang tepat di hadapannya hanya menerka-nerka
dengan mata berkaca-kaca dan tersenyum yang jika dilisankan, "Ah kau
Fahmi! Kau melakukannya lagi! Memaksaku keluar dari tempat yang sedang aku
jalani, pernah kau memaksaku untuk keluar dari duniamu dan sekarang? Kau
memaksaku untuk melayani duniamu. Fahmi sungguh tidak ada lagi asa itu, Fahmi
sungguh Ali mana? Fahmi sungguh aku tak bisa!"
***
Setelah
tiga hari Zainab dan Fahmi menikah, Zainab dirawat di rumah sakit karena
setelah pernikahan itu Zainab terus mengurung diri, berbicara akan memperbaiki
hubungan dengan Tuhan agar sekelilingnya baik.
Adapun,
di ruang perawatan berkumpul orang tua Fahmi dan Zainab. Mereka hanya bisa melihat
kondisi Zainab yang kurus sedang berbaring sudah satu minggu lamanya. Ibu
Zainab hampir putus asa. Ia tidak bisa menyalahkan siapa-siapa, termasuk
dirinya karena tidak ada alasan untuk menyalahkan.
"Kondisi
tubuhnya sudah membaik, pasien tidak koma, hanya saja aneh dia belum bangun
juga, atau tidak mau bangun," tutur dokter kepada semua yang sedang
menunggu Zainab.
Bukankah
sangat Maha Kuasa Tuhan? Menyelipkan perasaan yang tak bisa dijelaskan oleh
mereka yang menghadiri pernikahan itu?
Sementara
Zainab, sesekali mengucapkan kata, "Al, Al, Al."
Menjelang
malam, hanya Fahmi dan ayah Zainab yang berjaga. Tak ada percakapan hanya
lamunan kosong yang sedang mereka lakukan, hanya penyesalan yang entah apa.
"Zainab!"
tiba-tiba Ali masuk dan langsung menghampiri Zainab.
"Mas!
Ia isteriku, jauhkan tanganmu dari keningnya!" ucap Fahmi.
"Fahmi
ceraikan Zainab! Kau tak bisa terus memaksakan cinta yang lama sudah
berakhir," tegas Ali yang mengagetkan ayah Zainab.
"Tidak
akan! Zainab tak akan kulepaskan untuk kedua kalinya, apalagi harus melihatnya
di rumahku denganmu, Mas!" timpal Fahmi.
"Fahmi
kau?" tanya ayah Zainab dengan mata memerah.
"Maaf
Om, tapi sekarang Zainab hakku sepenuhnya," tutur Fahmi.
Semua
tak tersurat dalam lisan, namun tersirat dengan tatapan. Ayah Fahmi marah,
namun tak bisa berbuat apa-apa, sedangkan Zainab masih terbaring sambil terus
berkata, "Al, Al, Al."
"Fahmi
apa yang kau maksud dengan agama dan setara itu?" tanya Zainab.
"Zainab
akhirnya kau sadar, teganya kau terus menyebut nama Ali di sepanjang
waktu," ucap Fahmi sambil mendekat diikuti semuanya.
"Fahmi
jika aku tak mau kehilangan kekasih lagi, maka kekasihku adalah kekasih yang
selalu Ada," ucap Zainab yang sangat kurus, tetapi wajahnya begitu
bersinar.
"Ayah,
siapa yang salah? Ali yang mengalah dari Fahmi? Atau Fahmi yang memaksa Ali?
Atau aku yang tak bisa menerima takdirku?" tanya Zainab dengan susah.
"Mas
Ali, jika yang kita temukan bukan kebenaran, Yang Maha Benar akan mengirimkan
tanda berupa keraguan," tutur Zainab.
Semua
hanya bisa menatap dan merasakan inilah akhir dari Zainab, akhir dari
penderitaannya.
"Kekasihku
hampir sama namanya denganmu Mas Ali, Al-i dan Dia Al-lah, Allah, Allah,
Allah," itulah kalimat terakhir dari Zainab sebelum pergi meninggalkan semua
menuju Yang Maha Semua dalam Keesaan-Nya.
Benar
apa kata Zainab, siapa yang salah? Ali yang mengalah dari Fahmi? Atau Fahmi
yang memaksa Ali? Atau Zainab yang tidak bisa menerima takdirnya?
Zainab
dimakamkan dan semua yang hadir hanya bisa menitikan air matanya. Semua mengenang
Zainab Si Pecinta, bukan dengan Ali atau pun Fahmi, tetapi dengan Tuhannya.
Cinta seorang hamba yang melabuhkan hatinya pada pemilik hati itu sendiri.
Siapa yang tak heran? Ketika insan mencintai sesama insan atas nama Tuhan,
sementara Tuhan tak ia rasakan pada diri kekasihnya.
* *
*
Ali
terus berpikir atas apa yang terakhir Zainab katakan, tentang sebuah kebenaran,
apakah keputusannya benar? Apakah ini kisah yang harus ia telan? Kehilangan
kekasih karena kekasihnya tak merasakan Tuhan dalam dirinya sendiri.
"Mah,
Pah Ali pamit, Ali tidak jadi melanjutkan S2 di Jakarta, tapi Ali akan belajar
agama di Mekkah, Ali mohon izinnya," tutur Ali di hadapan kedua orang
tuanya.
"Pergilah,
nak, tuntut ilmu agama. Orang tua macam apa yang menghalangi anaknya untuk
menuntut ilmu? Mamah akan membiayaimu insyaallah, Mamah akan mengirim uang
untuk biayamu," tutur Ibu Ali dengan air mata.
"Tidak,
Mah, tak usah mengirim uang apa pun Ali akan membiayai sendiri. Cukup doakan
Ali agar mendapatkan apa yang Ali cari dan jika lima tahun Ali tidak kembali,
harap jangan tunggu Ali," itulah kalimat terakhir Ali saat di Bandara.
Sebulan,
dua bulan Ali masih memgirimkan pesan lewat internet kepada kedua orang tuanya.
Saat sudah setahun, dua tahun, Ali memberitahu kabarnya lewat surat. Lalu,
ketiga tahunnya tak ada surat dari Ali, bahkan saking rindunya Ibu Ali pergi ke
Mekkah untuk bertemu anaknya. Namun, tak pernah ia temukan Ali, bahkan orang
Mekkah tak ada yang mengenali foto Ali.
Di
tahun kelima, ibunya begitu gelisah menunggu kepulangan anak sulungnya, anak
yang selalu ia banggakan walaupun pendiam.
Hari
terakhir di tahun kelima kepergian Ali, terdengar suara mobil yang datang ke
rumah Ali. Ibunya langsung berlari dan berharap itulah Ali yang pulang. Namun,
sesampainya di halaman, ternyata Kyai Sajid yang datang, ada rasa kecewa karena
bukan Ali, ada juga rasa senang karena seorang Kyai Sajid datang ke rumahnya.
* *
*
"Maaf,
Bu. Tadi malam saya bermimpi bertemu dengan Zainab, lalu Zainab berkata kepada
seseorang di taman yang indah, 'Kasihku, aku untukmu, aku tidak mau selainmu.
Inilah sebagian yang dapat diterangkan sebab sesungguhnya keterangan tentang
topik ini berada di atas kemampuan mereka. Semoga Allah menganugerahi kita yang
berbicara dan mendengar kerinduan atas seluruh kenikmatan yang kekal,' begitu
kata Zainab dalam mimpi saya. Lalu, saya mendekat untuk melihat siapa yang
diajak bicara oleh Zainab, setelah mendekat ternyata itu Ali," tutur Kyai
Sajid.
Lalu
siapakah yang salah? Fahmi? Ali? Atau Zainab? Sehingga semua terjadi kisah ini?
Terlepas
dari siapa yang salah, apakah meninggalnya Ali dan Zainab adalah sebuah
kesalahan? Apakah Fahmi yang tanpa makna kesalahan juga?
Lalu
kisah cinta siapakah ini?
* *
*
Agar
memahami isi cerpen berjudul 'Zainab' ini pembaca harus membaca cerpen berjudul
'Ali' lalu ke 'Fahmi' dan terakhir ke 'Zainab'.
Oleh Nabila Tinezia
No comments:
Post a Comment