Saturday, 10 February 2018

ZAINAB




Di malam yang hening, sesekali hanya angin yang berbisik manja pada telinga seorang wanita yang sedang menikmati udara malam di atas genting rumahnya. Matanya yang bulat menatap langit penuh dengan semangat, sedangkan langit dengan bangganya memperlihatkan kekuasan-Nya berupa hamparan bintang-bintang yang indah.

Mata Si Wanita begitu bahagia, terkadang bibirnya naik sebeleh sedikit atau menggosokan kedua tangannya, dingin memang, tetapi ia menikmati malam itu.

Semua arti matanya tertuju pada masa lalu saat ia mondok sewaktu SMA. Ia pernah dengan begitu bodohnya percaya dengan pengurus asrama laki-laki yang di matanya laki-laki itu priyayi dengan segala puisinya sampai-sampai memberikan hatinya kepada laki-laki itu. Salahnya Si Wanita meragukan 999 orang karena percaya dan yakin kepada satu orang, Fahmi, ya nama laki-laki itu Fahmi, dan mata yang sedang menatap langit itu mata Zainab.

Dalam hati Zainab mengatakan, "Yup, benar di dalam kitab dikatakan, 'Cinta itu membutakan dan menulikan'."
Yang ia yakini hanya Fahmi saat itu, tak peduli apa kata orang yang menyebut Fahmi hanya memanfaatkanlah, Fahmi berhubungan dengan Ning Zahra, Fahmi juga berhubungan dengan Alya, atau Fahmi Si Sok Suci.

Untungnya, Zainab mau mendengarkan apa kata Kyai Sajid bahwa dunia tak sesempit puisi Fahmi, tak serumit penjelasan Fahmi akan pertanyaan Zainab mengenai semua perkataan orang, dan mendengarkan bahwa hidup di dunia untuk akhirat. Buktinya, setelah memutuskan meninggalkan Fahmi, beasiswa untuk kuliah di universitas negeri yang terkenal datang kepada Zainab karena ia telah menghapal Quran, sedangkan Fahmi? Kalimat-kalimat Fahmi berubah menjadi kasar yang tak berfaedah dan ia pun memang berhubungan dengan Alya teman Zainab sekaligus dengan Ning Zahra keponakan Kyai Sajid. Jika mengingat itu, ada rasa sesak karena kebodohannya di masa lalu dan ada rasa senang bahwa dia bisa keluar dari zona itu.

Tiba-tiba mata Zainab yang menatap langit berubah maknanya, kali ini matanya semakin semangat, namun hangat. Ternyata, setelah semua alur itu Zainab bernostalgia dengan masa lalu yang sebenarnya baru terjadi dua minggu lalu. Setelah ia baru saja selesai menyelesaikan kuliahnya dan menjadi Sarjana Fisika ia langsung dijodohkan dengan seorang pria yang tinggi, putih, baik, tampan, cerdas, brilian, pengertian, dan  juga seorang Sarjana IT.

Zainab langsung dikenalkan dengan pria itu ke keluarganya. Saat pertama bertemu Zainab hanya biasa saja karena melihat wajah calonnya mengingatkan Zainab pada seseorang. Lalu, ternyata benar pria yang akan dijodohkan dengan Zainab itu kakak kandung dari Fahmi, Zainab terkejut, dan Fahmi pun sama terkejut. Bagaimana tidak? Seseorang yang pernah Fahmi sakiti akan menjadi kakak iparnya?

Adapun Ali, kakak Fahmi, tidak tau apa-apa tentang hal itu.

Ali dan Zainab saling kenalan melalui Hp, kadang pesan singkat, telepon, atau video call. Ali seseorang yang sangat menyenangkan di mata Zainab. Mereka  membahas Fisika dan juga IT dalam percakapan mereka di telepon, mungkin itu yang membuat mereka cepat jatuh hati. Di sisi lain Ali pun seorang yang sangat dewasa dan tegas dengan gaya santainya.

Setelah satu minggu saling kenal, mereka langsung mengadakan lamaran. Keluarga tak mau menunda lama, keluarga menilai mereka berdua sudah cocok dan Ali pun sudah mempunyai pekerjaan yang lumayan di suatu perusahaan informatika dengan posisi yang lumayan penting.

Mata Zainab walau sudah ngantuk masih betah dengan malam dan langit, masih terus bernostalgia tentang percakapan dengan Ali. Namun, nostalgia Zainab terpecahkan dengan suara dering handphone-nya.

"Assalamu'alaikum, Zainab," ucap suara seorang pria di seberang jaringan sana.

"Wa'alaikum salam, Mas Ali," jawab Zainab semangat.

"Zainab lagi di mana? lagi apa?" tanya Ali.

"Zainab lagi apa ya, pokoknya Zainab lagi di atas genting."

"Lho? Kok di atas genting, nanti sakit gimana? Mending sekarang masuk rumah karena dua hari lagi hari pernikahan kita, Mas Ali juga mau masuk ke kamar terus tidur," goda Ali.

"Iya, mas. Emang mata Zainab udah 2,5 watt nih," goda balik Zainab.

"Ah kamu, bisa aja. Selamat Malam Zainab. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikum Salam."

* * *

Sebelum akad, Ali ingin sekali melihat calon istrinya, Zainab, agar tidak tegang dan lebih tenang.
Tak heran, Ali mencari Zainab, tak apa tidak betegur sapa, setidaknya melihat saja Ali pun sudah senang.

Ali menemukan Zainab sedang menatap laut di balkon villa lantai tiga milik keluarganya, Ali menatap Zainab hanya dari kejauhan, yaitu di dalam ruangan saja. Ada sekilas niat untuk Ali menyapa Zainab, namun ketika ingin melangkah, datang Fahmi dari arah lain yang langsung berdiri di samping Zainab. Pikir Ali mungkin Fahmi adiknya ingin berkenalan dengan kakak iparnya.

Ali memutuskan untuk tidak melangkah dan berdiri di balik tiang yang agak jauh dari mereka, namun tetap bisa mendengarkan percakapan mereka.

Ali mendengarkan semuanya. Ia sangat terkejut dan ada rasa kecewa terhadap Zainab yang tidak menceritakan semuanya.

Setelah datang bibi Fahmi dan Zainab melangkah ke dalam villa, Ali mendekati Fahmi yang sedang menatap kepergian Zainab.

"Fahmi!" tegur Ali.

Fahmi pun membalikkan badannya.

"Mas Ali? Kau mendengarkan semuanya, kan? Mas batalkan pernikahan ini!" ucap Fahmi.

"Tidak Fahmi! Pernikahan dan cinta tidak sebercanda itu!" tutur Ali.

"Maka dari itu, kamu sebagai kakak dan seorang dewasa membuka mata bahwa Zainab menikahimu karena wajah kita mirip, dan kakak tidak kufu atau setara dengan Zainab!"

"Maksudmu, Fahmi?" tanya Ali.

"Ia seorang hafidzah, ahli agama, fisika, bahkan menguasai kitab Ihya, sedangkan kamu, Mas? Hanya seorang manager, memang kamu lebih kaya, tapi bagaimana caranya menuntun Zainab?" jawab Fahmi.

Ali menerawang maksud dari Fahmi, menerawang tentang semua yang baru saja terjadi.

"Kak, apa kau tega memisahkan dua orang yang saling mencintai, saling menatap dalam rumah yang sama tapi tak bisa bersama? Apa kau tega membiarkan adikmu menderita? Tega dengan dirimu sendiri yang hanya pura-pura tidak tahu lantas terus mencintai?" sugesti Fahmi.

"Fahmi memang aku tak sepaham tentang agama sepertimu, tapi Zainab takkan aku lepaskan!" tegas Ali.

"Mas, akankah aku harus jadikan laut sebagai saksi? Bahwa hidup tak bisa kulalui lagi," ucap Fahmi.

"Fahmi, dewasalah! Terimalah semua ini, aku tidak bisa melepaskan Zainab dan bagaimana dengan keluarga kita?" tutur Ali.

"Mas yang hadir hanya keluarga inti saja, ditambah bibi dan nenek, ini mudah. Atau jika Mas tak bisa melepaskan Zainab mungkin Mas bisa melepaskanku?" ancam Fahmi, yang bermaksud ingin bunuh diri terjun ke laut.

"Fahmi, dewasalah! Kau ingin bersama Zainab, tapi tak dewasa?" cegah Ali.

"Kau bilang aku tidak dewasa? Ini bukan dewasa atau tidak, Mas! Inilah cinta! Apakah Si Majnun itu tidak dewasa dengan gilanya ia karena Laila?" timpal Fahmi yang akan melompat.

Ali memegang tangan Fahmi untuk mencegahnya. Dalam cegahannya terhadap Fahmi, Ali berpikir berusaha untuk dewasa dan bijak, banyak pertanyaan di otak Ali untuk memahami semua.

"Apakah Zainab masih mencintai Fahmi? Apakah aku sanggup terus berpura-pura bahwa tidak terjadi apa-apa? Tapi apakah benar semua ucapan Fahmi bahwa mereka masih saling mencintai? Karena sikap Zainab tidak ada cela sedikit pun tentang hal itu, tapi jika Fahmi berbohong tetap saja dia akan menderita melihat kami, tapi jika aku berikan Zainab?" pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepala Ali.

"Fahmi, ayo kita masuk, kita bicarakan semuanya dengan keluarga!" tegas Ali.

* * *

Sementara itu Zainab yang mengira bahwa akad sudah berlangsung, langsung menuju ruang akad, dan ternyata di sana tidak ada tanda-tanda bahwa sudah akad karena tidak ada Ali.

"Nak, kamu tunggu di kamar saja saat akad, tidak baik pasangan yang belum halal duduk bersebelahan walaupun itu akan akad. Biar suami nanti yang nyamperin ke kamar," ucap ibu Zainab.

Zainab pun melangkah menuju kamar, tidak ada rasa aneh dalam dirinya, semua seperti biasa saja, semua baik-baik saja, semua sesuai rencananya.

Sesampai di kamar dengan rasa bahagia Zainab siap menunggu Ali.

Di ruangan lain, Ali, Fahmi, dan keluarga sedang berkumpul.

"Maaf kepada keluarga Zainab dan keluarga saya sendiri, mungkin ini terlalu mendesak atau memalukan, tapi saya tidak bisa melangsungkan pernikahan ini," jelas Ali kepada keluarga.

Seketika itu kening-kening keluarga Ali dan Zainab mengerut, mulai bisik-bisik yang sebenarnya mereka pun tak berbisik hanya sepintas perasaan yang tak bisa mereka utarakan, hanya sesirat kekecewaan terhadap Ali, tapi mereka tahu siapa Ali.

"Ceritakan! Ada apa ini?" tanya Ayah dari Ali dengan sedikit marah.

"Ali ingin meneruskan S2 di Jakarta, jujur Ali belum siap untuk menikah, Ali belum bisa mencintai Zainab sepenuhnya, Ali takut malah menyakiti Zainab," ucap Ali.

"Nak, terus kamu ingin mempermalukan semua ini? Membubarkan ini semua?" tanya Mamah Ali dengan air mata berkaca-kaca.

"Tidak, Mah. Walaupun Ali lebih tua dari Fahmi, tapi Fahmi lebih siap untuk menikah daripada Ali. Fahmi paham akan agama, cara menjalankan rumah tangga, dan Fahmi pun ternyata bisa lebih mencintai Zainab karena Zainab pun mencintai Fahmi," ucap Ali.

Semua hening, Ali dikenal sebagai anak yang bijak di keluarganya, semua keputusannya tidak pernah orang tuanya permasalahkan. Semua berusaha berprasangka baik kepada Ali bahwa keputusannya bijak seperti biasa.

Orang tua Zainab seolah-olah beku semua tubuhnya, entah apa yang harus mereka lakukan, entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Sementara itu, Mamah Zainab berdiri dan menuju kamar Zainab dengan mata berkaca-kaca.

"Zainab, kamu setuju, kan, atas perjodohan? Kamu ikhlas menerimanya sebuah perjodohan apa pun itu?" tanya Mamah Zainab seketika tiba di kamar Zainab.

"Ada apa, Mah? Zainab menerima sepenuhnya keputusan Mamah dan Papah, Zainab Insyaallah ikhlas," jawab Zainab dengan tersenyum manis.

Di waktu bersamaan akad pun akan dimulai, semua telah memutuskan bahwa Fahmilah yang akan dijodohkan dengan Zainab, sedangkan Ali setelah akad akan langsung pulang ke rumahnya dan pergi ke Jakarta untuk beberapa bulan ke depan untuk menjalani beasiswa S2-nya.

Ikrar pun telah Fahmi ucapkan, semua berdoa dengan perasaan yang tak mereka pahami masing-masing. Bahkan, Fahmi pun tak tahu apa perasaannya, semua seolah hambar, seolah menanti sebuah dentuman, seolah semua mengorbankan perasaan masing-masing entah untuk siapa, entah karena apa.

Fahmi pun melangkah menuju kamar Zainab, sedangkan Ali langsung melangkah pergi tak mau menyaksikan semuanya. Ada perasaan yang dalam meliputi Ali. Ia pergi,  tak percaya apa yang telah terjadi karena beberapa jam yang lalu, Zainab-lah satu-satunya yang ingin ia lihat, tetapi sekarang? Zainab satu-satunya yang tak ingin ia lihat lagi, tak ingin ia kenang lagi. Bukan karena salah Zainab, Zainab tidak salah.

"Fahmi? Astagfirullah, mengapa kau masuk kamarku?" tanya Zainab yang kaget ketika Fahmi memasuki kamarnya.

Masuklah kedua orang tua Zainab, menatap anaknya yang mereka pikir bahagia karena dijodohkan dengan Fahmi. Zainab melihat kedua orang tuanya serta Fahmi yang berada di hadapannya langsung bisa memahami apa yang telah terjadi, memahami bahwa Fahmi telah membatasi dunianya dengan bait puisi melalui orang tuanya.

Zainab yang menatap ketiganya yang sekarang tepat di hadapannya hanya menerka-nerka dengan mata berkaca-kaca dan tersenyum yang jika dilisankan, "Ah kau Fahmi! Kau melakukannya lagi! Memaksaku keluar dari tempat yang sedang aku jalani, pernah kau memaksaku untuk keluar dari duniamu dan sekarang? Kau memaksaku untuk melayani duniamu. Fahmi sungguh tidak ada lagi asa itu, Fahmi sungguh Ali mana? Fahmi sungguh aku tak bisa!"

***

Setelah tiga hari Zainab dan Fahmi menikah, Zainab dirawat di rumah sakit karena setelah pernikahan itu Zainab terus mengurung diri, berbicara akan memperbaiki hubungan dengan Tuhan agar sekelilingnya baik.

Adapun, di ruang perawatan berkumpul orang tua Fahmi dan Zainab. Mereka hanya bisa melihat kondisi Zainab yang kurus sedang berbaring sudah satu minggu lamanya. Ibu Zainab hampir putus asa. Ia tidak bisa menyalahkan siapa-siapa, termasuk dirinya karena tidak ada alasan untuk menyalahkan.

"Kondisi tubuhnya sudah membaik, pasien tidak koma, hanya saja aneh dia belum bangun juga, atau tidak mau bangun," tutur dokter kepada semua yang sedang menunggu Zainab.

Bukankah sangat Maha Kuasa Tuhan? Menyelipkan perasaan yang tak bisa dijelaskan oleh mereka yang menghadiri pernikahan itu?

Sementara Zainab, sesekali mengucapkan kata, "Al, Al, Al."

Menjelang malam, hanya Fahmi dan ayah Zainab yang berjaga. Tak ada percakapan hanya lamunan kosong yang sedang mereka lakukan, hanya penyesalan yang entah apa.

"Zainab!" tiba-tiba Ali masuk dan langsung menghampiri Zainab.

"Mas! Ia isteriku, jauhkan tanganmu dari keningnya!" ucap Fahmi.

"Fahmi ceraikan Zainab! Kau tak bisa terus memaksakan cinta yang lama sudah berakhir," tegas Ali yang mengagetkan ayah Zainab.

"Tidak akan! Zainab tak akan kulepaskan untuk kedua kalinya, apalagi harus melihatnya di rumahku denganmu, Mas!" timpal Fahmi.

"Fahmi kau?" tanya ayah Zainab dengan mata memerah.

"Maaf Om, tapi sekarang Zainab hakku sepenuhnya," tutur Fahmi.

Semua tak tersurat dalam lisan, namun tersirat dengan tatapan. Ayah Fahmi marah, namun tak bisa berbuat apa-apa, sedangkan Zainab masih terbaring sambil terus berkata, "Al, Al, Al."

"Fahmi apa yang kau maksud dengan agama dan setara itu?" tanya Zainab.

"Zainab akhirnya kau sadar, teganya kau terus menyebut nama Ali di sepanjang waktu," ucap Fahmi sambil mendekat diikuti semuanya.

"Fahmi jika aku tak mau kehilangan kekasih lagi, maka kekasihku adalah kekasih yang selalu Ada," ucap Zainab yang sangat kurus, tetapi wajahnya begitu bersinar.

"Ayah, siapa yang salah? Ali yang mengalah dari Fahmi? Atau Fahmi yang memaksa Ali? Atau aku yang tak bisa menerima takdirku?" tanya Zainab dengan susah.

"Mas Ali, jika yang kita temukan bukan kebenaran, Yang Maha Benar akan mengirimkan tanda berupa keraguan," tutur Zainab.

Semua hanya bisa menatap dan merasakan inilah akhir dari Zainab, akhir dari penderitaannya.

"Kekasihku hampir sama namanya denganmu Mas Ali, Al-i dan Dia Al-lah, Allah, Allah, Allah," itulah kalimat terakhir dari Zainab sebelum pergi meninggalkan semua menuju Yang Maha Semua dalam Keesaan-Nya.

Benar apa kata Zainab, siapa yang salah? Ali yang mengalah dari Fahmi? Atau Fahmi yang memaksa Ali? Atau Zainab yang tidak bisa menerima takdirnya?

Zainab dimakamkan dan semua yang hadir hanya bisa menitikan air matanya. Semua mengenang Zainab Si Pecinta, bukan dengan Ali atau pun Fahmi, tetapi dengan Tuhannya. Cinta seorang hamba yang melabuhkan hatinya pada pemilik hati itu sendiri. Siapa yang tak heran? Ketika insan mencintai sesama insan atas nama Tuhan, sementara Tuhan tak ia rasakan pada diri kekasihnya.

* * *

Ali terus berpikir atas apa yang terakhir Zainab katakan, tentang sebuah kebenaran, apakah keputusannya benar? Apakah ini kisah yang harus ia telan? Kehilangan kekasih karena kekasihnya tak merasakan Tuhan dalam dirinya sendiri.

"Mah, Pah Ali pamit, Ali tidak jadi melanjutkan S2 di Jakarta, tapi Ali akan belajar agama di Mekkah, Ali mohon izinnya," tutur Ali di hadapan kedua orang tuanya.

"Pergilah, nak, tuntut ilmu agama. Orang tua macam apa yang menghalangi anaknya untuk menuntut ilmu? Mamah akan membiayaimu insyaallah, Mamah akan mengirim uang untuk biayamu," tutur Ibu Ali dengan air mata.

"Tidak, Mah, tak usah mengirim uang apa pun Ali akan membiayai sendiri. Cukup doakan Ali agar mendapatkan apa yang Ali cari dan jika lima tahun Ali tidak kembali, harap jangan tunggu Ali," itulah kalimat terakhir Ali saat di Bandara.

Sebulan, dua bulan Ali masih memgirimkan pesan lewat internet kepada kedua orang tuanya. Saat sudah setahun, dua tahun, Ali memberitahu kabarnya lewat surat. Lalu, ketiga tahunnya tak ada surat dari Ali, bahkan saking rindunya Ibu Ali pergi ke Mekkah untuk bertemu anaknya. Namun, tak pernah ia temukan Ali, bahkan orang Mekkah tak ada yang mengenali foto Ali.

Di tahun kelima, ibunya begitu gelisah menunggu kepulangan anak sulungnya, anak yang selalu ia banggakan walaupun pendiam.

Hari terakhir di tahun kelima kepergian Ali, terdengar suara mobil yang datang ke rumah Ali. Ibunya langsung berlari dan berharap itulah Ali yang pulang. Namun, sesampainya di halaman, ternyata Kyai Sajid yang datang, ada rasa kecewa karena bukan Ali, ada juga rasa senang karena seorang Kyai Sajid datang ke rumahnya.

* * *

"Maaf, Bu. Tadi malam saya bermimpi bertemu dengan Zainab, lalu Zainab berkata kepada seseorang di taman yang indah, 'Kasihku, aku untukmu, aku tidak mau selainmu. Inilah sebagian yang dapat diterangkan sebab sesungguhnya keterangan tentang topik ini berada di atas kemampuan mereka. Semoga Allah menganugerahi kita yang berbicara dan mendengar kerinduan atas seluruh kenikmatan yang kekal,' begitu kata Zainab dalam mimpi saya. Lalu, saya mendekat untuk melihat siapa yang diajak bicara oleh Zainab, setelah mendekat ternyata itu Ali," tutur Kyai Sajid.

Lalu siapakah yang salah? Fahmi? Ali? Atau Zainab? Sehingga semua terjadi kisah ini?
Terlepas dari siapa yang salah, apakah meninggalnya Ali dan Zainab adalah sebuah kesalahan? Apakah Fahmi yang tanpa makna kesalahan juga?

Lalu kisah cinta siapakah ini?
* * *

Agar memahami isi cerpen berjudul 'Zainab' ini pembaca harus membaca cerpen berjudul 'Ali' lalu ke 'Fahmi' dan terakhir ke 'Zainab'.

                                                                                               Oleh Nabila Tinezia


No comments:

Post a Comment

Jangan

JANGAN Jangan ganggu aku Atau aku yang menghadirkanmu? Jangan bergerak dalam kepalaku Atau aku yang menyutradaimu? M...